The Ripples

Menguap

Antusiasme. Menurut kamus ia berarti kegairahan, gelora semangat; minat besar terhadap sesuatu. Bila boleh kutambahkan; kepada hal yang menurutmu mampu membuat dirimu tetap terjaga dari hal-hal yang membuatmu lupa akan diri sendiri. Aku memang suka membaca novel, membaca sejarah, serta puisi. Meski tak seintens dulu. Dan untuk yang terakhir secara khusus aku merawat kesukaanku dengan berkegiatan mengadakan pembacaan satu bulan sekali sambil belajar mendalami apa yang terdapat di dalam kedalaman puisi-puisi yang dibaca, lengkap dengan segala urusan yang terkait di dalamnya. Meski aku tahuk pengetahuanku mengenai puisi sangatlah tidak memadai, koleksi buku puisiku pun tak sebanyak novel yang terpajang di rak. Walau tak banyak-banyak amat juga. Aku merelakan waktuku demi itu semua dalam beberapa bulan belakangan ini. Kini, perlahan aku merasakan antusiasmeku terhadapnya mulai berkurang, semakin hari. Aku pernah menyinggung soal ini tempo hari. Intinya, aku sudah mulai malas dan bosan. Mungkin memang karena aku orang yang mudah bosan. Tentu ada sebabnya, seiring waktu yang berjalan dengan berbagai masalah harian pada umumnya, ditambah tak satupun yang aku lakukan dalam kumpulan itu, tak ada ide-ide yang kami eksekusi. Tak ada program yang eksplisit yang tercetus maka antusiasme itu pun ikut-ikutan berubah, sekalipun kemarin kami mengadakan (lagi) pembacaan setelah beberapa bulan vakum, tetap saja bagiku, ia, perlahan-lahan mulai terlupakan, dan dengan sendirinya, hancur. Apakah aku memasuki fase di mana sebuah semangat akan satu hal perlahan menyurup-menelungkup? Semoga, tidak.

Advertisements

Menyelamiku Untuk Menyelamimu

Ia meminta didatangi. Dihangati. Dinyalakan. Dijaga. Ia membisikkan sesuatu yang mesti engkau jelajahi. Tanpa ragu. Menghanguskan ilusi biner warisan purba di mana polesan maskara mendominasi langkah kaki. Meraih hari kembali sebelum bekas luka-luka lama menyerupai ledakkan kembang api yang kubenci tiba menghampiri. Hampir membunuh. Mengelupasi rasa-rasa. Memekakan relung jiwa. Menenggelamkan mimpi hingga dalam. Kini, ia bangkit kembali serupa Kronos yang dibangkitkan sebongkah pedang api, ia hendak melampiaskan hak primordial dengan lekas, memanggil dan dipanggil agar: menuntaskan hasrat.

Senja Yang Menghadirkan Masa (II)

Persisnya aku lupa ketika berkenalan denganmu saat itu. Mungkin hanya spontan saja. Kita bertukar nomor hp begitu saja. Lalu, besoknya kita sama-sama memutuskan untuk melihat tempat-tempat di seputaran kota ini. Kota yang asing, pikirku. Tetapi keasingan ini agak berbeda. Membuatku merasa nyaman, malah. Memang darah priangan bergejolak kental di sini mungkin karenanya aku tak merasa benar-benar asing. Karena aku telah cukup akrab dengan situasi kota-kota priangan. Masih dalam lingkup tradisi yang sama di mana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Engkau hanya mengetikan alamat lewat sms sebuah tempat di mana kita mengadakan pertemuan. Bertemu. Tentu saja agar kita mampu lebih mengenal satu sama lain, paling tidak tak hanya di ruang virtual. Kusanggupi tempat yang engkau sms-kan. Aku pun antusias. Lekas bergegas dari mess dan hanya bermodal angkot disertai uang Rp.50,000, aku cukup nekat saat itu. Bukan nekat sebetulnya, konyol lebih tepat. Kekonyolanku pun memuncak ketika, ternyata, engkau membawa serta teman-temanmu. Genk-mu. Hal yang tak pernah kupikir sebelumnya. Sialan! Sebagai lelaki yang ketat menjaga citra kelelakiannya di mana mentraktir perempuan adalah kewajiban yang sudah mirip sembahyang hal ini dapat jadi kabar buruk buat pencitraanku.

Otomatis dugaan tiba-tiba pun muncul mengalir, pasti genk-mu akan meminta traktir. Benar saja, ke Mall main Billyard. Astaga. Mengingat uangku hanya Rp,50,000, saja dipotong 2x ngangkot sisa Rp,44,000, huahaha. Kalian telah menghentikan napasku sepersekian detik.

Akhirnya, kita semuapun hanya berakhir di warung kopi. Dengan membuang urat gengsi-malu-menyedihkan, kusuruh teman-temanmu pulang duluan sesudah minum kopi di warung kopi itu. Runtuh sudah pencitraanku. Lebur.

Setelah mereka pergi akupun hanya berbincang dan berjalan denganmu, membagikan pengalaman hidup masing-masing, kemudian berhenti di tukang es buah sambil menghitung recehan dalam dompet dalam hati, menyisakannya agar aku dapat mengantarkanmu pulang selain mencairkan suasana memalukan seperti tadi, tentu saja. Setidaknya senja mega mendungpun pun menelusup ke dalam es yang kita cecapi. Rasanya itu Xanax artifisial buatku. Haha

Malam pelan-pelan menjalar. Kecanggungan antara kita sedikit memudar. Aku mengajakmu pulang karena mustahil rasanya mengajakmu untuk makan sate. Kita hentikan angkot. Turun darinya. Menghentikannya lagi. Lalu berakhir di sebuah lapangan hijau terbentang, sepertinya lapangan itu tempat nangkring macam-macam komunitas motor, aku melihat motor berjejeran di sana. Berbagai merk. Berbagai Bentuk.

Engkau memang tak ingin pulang malam itu, engkau ingin bertemu temanmu dulu di sana, di antara kawanan itu. Dan aku ingin cepat pulang ke mess, ingin melupakan hari itu lekas. Langit saat itu begitu cerah, aku menghentikan angkot disertai sebatang rokok terakhir, mengepulkan asapnya ke udara berupaya meraih kerlip bintang namun tak pernah sampai, seolah bintang-bintang di kejauhan sana memertontonkan tawa mencemooh. Rerumputan ikutan terbahak. Pohon-pohon tercekikik. Kota ini menertawakanku. Mereka menertawakanku. Engkau, mungkin juga menertawakanku.

Senja Yang Menghadirkan Masa (I)

Hampir 3 tahun lalu. Di kota ini, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan pernah kudiami. Tak lama memang, kurang dari setahun, kisaran delapan bulan saja. Dalam rangka ‘aktivisme’ sekaligus mencari tambahan uang agar bertahan di situ kala itu. Cukup kompleks ketika aku harus tinggal di Kota ini sementara sidang skripsi saat itu tinggal beberapa minggu lagi, di Kota lain pulak. Ah, aku sudah menutup cerita soal studiku itu.

Disebut kompleks karena ini berkaitan dengan hal-hal politik, tentara, bahkan klenik. Tentara? Hahaha. Klenik? Holy-Crap! Ya, memang saat itu aku menginap di sebuah mess kepunyaan salah satu Mayjen TNI-AU yang dalam rutinitasnya membaurkan hal-hal di luar nalar normatif secara kolektif. Praktek mitologi yang dipaksakan pada era posmodern seperti sekarang. Namun, semakin ke sini aku hanya menganggapnya sebagai bentuk kearifan lokal saja. Penanda identitas waktu dan massa dahulu kala. Warisan tradisi. Pengalaman yang lumayan berharga. Meski sebagian orang memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi. Aku benci pada bagian ini.

Kuakui memang di Kota ini juga aku banyak mendapat pelajaran penting soal hidup. Perspektif baru dalam memandang hidup terutama setelah membaca karya-karya Tan Malaka yang makin diperkuat lagi dengan mendengar dan menafsirkan Homicide. Kolektif hip-hop yang sudah menjadi kultus bagi sebagian orang. Semenjak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi memang. Dan memang bagiku mereka begitu inspirasional! Bukankah sebaik-baiknya memberi adalah menginspirasi?

Kini, aku kembali lagi ke Kota ini. Kali ini dalam rangka hanya  pekerjaan. Aku telah resign dari pekerjaan lama. Pekerjaan yang sempat kubela sepenuh energi namun harus kurelakan pergi. Menyerah? Kalah? Munafik? Mungkin. Mungkin. Aku tak keberatan dikatakan demikian. Yang pasti aku gagal bertahan di sana, dan yang mengataiku tak akan bisa menghentikan kesusahan-kesusahanku saat menjalani hari, memberi senangpun mustahil rasanya. Maka yang kupilih saat ini adalah adaptasi agar esok hari lebih baik dari hari ini. Sesederhana itu.

Kota ini, meski cumak ditinggalkan nyaris 3 tahun olehku ternyata sudah banyak perubahan. Salah satu kelebihanku dalam merasakan perubahan adalah hanya dengan menghirup udaranya. Penciumanku cukup peka dalam mendeteksi oksigen yang tercecer di udara. Mungkin ini suatu bakat alam. Aku bisa merasai udara di sekitar sini bahwa di sini makin pengap. Tak sama. Tak akan pernah sama lagi sepersis aku di sini kala itu. Meskipun tak sepengap Jakarta atau Bekasi.

Bukankah wajar jika kita menempatkan perspektif bahwa kota ini akan bertransformasi menjadi Kota Wisata, persisnya Industri Wisata. Cukup masuk akal karena Kota ini cumak terpaut puluhan mil dari Ibu Kota di mana pusat kapital berputar. Orang akan membutuhkan udara segar ketika akhir pekan tiba, Kota ini pun menjadi pilihan di antara sedikit pilihan, selain Bandung tentu saja. Yang biasanya akan sesak sekali bila akhir pekan datang. Aku tak tahuk secara pasti sejak kapan kota Bandung menjadi tempat perayaan kecil-kecilan massa pekerja. Namun dengan begitu makin menjamur pulaklah lumpen proletariat di sana. Seperti di Kota ini. Persis.

Kupikir hanya satu yang tak berubah di sini yaitu, senjanya. Aku selalu suka ketika senja melintas di Kota ini. Entahlah, karena jika di kota-kota lain sensasinya juga lain. Semacam hadir sublimitas yang menyentuh bagian diriku.

Voice of Voiceless

Babylon was built on fire and the bones of useless machines, it hurt to breathe you fell away from me ~Babylon Was Built On Firestars, Thee Silver Mount Zion Memorial Orchestra 

Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa menumpahkan keluh kesah, gelisah, resah. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku bisa bercerita bebas gembira, ceria, tertawa. Aku merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana jiwaku mampu kubenamkan dan terbitkan sesuka hati.

Aku merindukan rumah. Masa, di mana aku bisa memberitahukan apa yang aku inginkan kepada Ayah dan Ibuku. Segala yang aku mau. Sama seperti saat aku kecil. Aku merindukan di mana aku bisa bermain bola di halaman rumahku, bermain tenis meja, mendirikan tenda bersama teman-temanku. Tertawa. Hanya Tertawa.

Aku sangat merindukan sebuah rumah. Tempat, di mana aku dan adikku suka berebut mainan. Aku membuatnya kesal, dia membuatku kesal. Kita menjadi menyebalkan! Rumah. Tempat, di mana aku bisa membawa teman-temanku bermain di rumahku, membawa pacar ke rumahku dengan perasaan bebas.

Aku merindukan kolam ikan yang berada di depan rumahku yang terdapat pos ronda di sebelahnya. Dan aku suka bermain gitar sekaligus bernyanyi di sana. Aku rindu membuat puisi abal-abal di kamar rumahku  dengan suasana sepi, damai, dan menenangkan. Di rumahku, aku dapat memandang purnama di bawah pohon mangga dengan telanjang. Sesekali makhluk astral tampak dengan lancang menggoda adik dan teman-temanku. Meski aku agak ragu dengan kisah itu.

Di rumahku, pasar yang terbakar pun bisa terlihat jelas. Api berkobar disertai asap pekat memangsa udara sebagai tanda bahwa zat kimia telah berubah menjadi monster tak berbentuk. Serupa lukisan abstrak yang bertinta gelap dan abu.

Suatu kali saat aku kecil aku pernah membakar gabus di belakang rumahku yang memotivasi kebakaran jika para tetanggaku tak sigap siaga membanjiri api dengan air. Padahal saat itu aku hanya ingin bermain. Pikiranku begitu bebas, tak memikirkan konsekuensi. Lepas begitu saja.

Warna dinding keramik yang hijau. Pagar hijau. Barisan pepohonan yang juga hijau di belakang. Atap yang tidak jarang digerogoti tikus. Suara-suara langkah kaki yang aneh jika malam menangkap. Aku merindukannya. Saat hujan datang, aku selalu merasa nyaman berada di kamar rumahku. Terlebih jika engkau juga hadir bersamaku.

Bila Tak Bisa Diperbaiki Biarkan Menjadi Danur

Sebuah komunitas, atau mungkin lebih tepatnya tempat orang-orang yang butuh berteman tapi ia tak tahuk ke mana harus pergi memang tak akan bertahan lama dan tak layak juga dipertahankan. Kehadiran di dunia nyata tak lebih dari tuntutan moral massa virtual agar eksistensi dan citranya tetap terjaga. Tak pernah sekalipun aku mendengar dari mulut mereka akan dibawa ke mana eksistensi komunitas itu?

Mungkin memang tak ada yang diperjuangkan. Dan berjuang untuk apa dan siapa memangnya? Namun hal yang jelas terlihat, makna eksis bagi mereka ialah semakin sering namanya bertebaran di lini kala virtual semakin melonjaklah nilai eksistensialnya. Itulah makna eksistensi bagi mereka. Atau malah makna eksistensi hari ini sebagaimana istilah “Punk Hari Ini”. Keduanya punya benang merah yang sama. Sama-sama menggelikan. Di mana keduanya berlomba mengalienasi dirinya sendiri dengan berharap nilai tertentu dari sebuah gerakan yang palsu.

Hah, gerakan? Kupikir kata itu terlalu konyol ditempatkan di sini, kumpulan biasa, mungkin lebih tepat. Barangkali saking hidup terlampau sepi untuk diisi dan tak tahuk ke mana harus pergi berkumpulpun menjadi pilihan karena manusia pada dasarnya ingin saling mengisi dan diisi. Yang menjadi masalah adalah disorientasi pada kegiatan (hura-hura pun tidak! Parah. Haha) Juga miskinnya imaji tentang kenapa sebuah kolektif mesti dibentuk?

Aku tidak anti-media mengingat ini abad media mana mungkin aku menolak keadaan itu hanya saja bukankah sosial media akan tampak sangat berguna apabila digunakan secara tepat guna? Ada keberimbangan antusiasme antara realitas dan virtual. Tapi yang kutemui malah sebaliknya. Hanyalah tontonan. Tontonan yang buruk.

Keluh Kesah Keruh

Subsidi BBM itu semacam repetisi kekonyolan yang tak banyak disadari kawan-kawanku, tepatnya, oleh kelas menengah (ke bawah, mentok, whatsoever you call it). Sebetulnya, aku sendiri cukup bingung masuk ke dalam kelas mana mengingat pendapatanku jauh dari kebutuhan layak hidup, meskipun mampu ngeblog, atau bermain sosial media lainnya aku meragukan klaim keberadaan kelas menengah pada diriku. Krisis identitas kelas? Mungkin saja. Karena aku hidup di antara kelas menengah yang keberadaannya tak mampu kuraih secara penuh. Ada gap yang tegas antara kami (honorer) dan mereka (PNS). Tapi toh hidup harus terus berlanjut meskipun terkencing-kencing dikejar kebutuhan dengan mencari tambahan dari pekerjaan lain. Aku merayakannya.

Presiden berganti dengan harapan akan ada perubahan secara menyeluruh pada nasib masing-masing kami, lebih tepatnya diriku, namun seperti biasa aku dikecewakan lagi dengan naiknya BBM di saat harga minyak dunia turun yang mengotomatisasi naiknya harga-harga lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana pergantian kepala negara selalu melahirkan pemujaan dan harapan yang berakhir dengan kekecewaan.

Begitukah watak pemerintahan, memberi harapan palsu pada rakyatnya? Dan yang tak kalah menyebalkannya tak sedikit kelas menengah yang menyuruh mengubah pola hidup agar hemat. Katakanlah, aku mengubah konsumtivitasku. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda ke kantor –toh tak disuruh pun aku sudah melakukannya, atau yang lebih moron menggunakan transportasi publik. Dan, untuk yang terakhir inilah yang menimbulkan keambangan menjalani rutinitas mengingat begitu buruknya transportasi di sini. Buruk sekali. Dengan menjalankan sistem yang sama (baca: kapitalisme kontemporer) maka output-nya pun akan sama pula, bahkan dalam 1 dekade ke depan pun. Kita tak akan berubah. Dan engkau mengatakan ubahlah pola hidupmu. Sedang melucukah engkau? Atau mungkin bodoh karena kepalanya tak senantiasa diisi dengan pengetahuan mengenainya, atau mungkin juga naif, dungu, namun yang jelas amat menyebalkan! Subsidi BBM tak akan mengubah nasibku, engkau, jika sistem yang dijalankan masih sama seperti sebelumnya. Tidak tepat sasaran subsidi akan selalu ada, ketimpangan sosial ekonomi akan selalu ada selama pola-pola kemarin masih dipelihara. Aku cukup menyesal kemarin masuk ke dalam bilik kotak suara. Mungkin, nasibku hanya bisa berubah tanpa mengharap lagi pada pemerintah.

Dasar lubang pantat!

Soalan Tato

Era posmodernisme antara lain ditandai oleh pergeseran dari pluralitas interpretasi menuju kemajemukan realitas; yang utama bukan lagi epistemologi dan pengetahuan, melainkan ontologi dan praktek. Dalam tatapan tersebut posisi tubuh jadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan, lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis. Kesadaran akan sentralitas tubuh semacam ini pada gilirannya memicu munculnya pertanyaan dan pernyataan (secara kebahasaan maupun non-bahasa) seputar sifat dasar (nature) tubuh itu sendiri: bagaimana kemandirian dan atau ketergantungan tubuh alami pada kekuatan lain di sekitarnya, kekuatan-kekuatan yang membentuk kesadaran dan pengalaman ketubuhan.

Tato pertama kali dilakukan pada tubuh manusia kira-kira 5300 tahun lalu, tergambar pada tubuh mumi Otzi The Iceman yang terdapat 57 tato pada tubuhnya, setidaknya itulah yang ditemukan para arkeolog. Tato, pada mulanya bermakna sesuatu yang suci dan sakral. Pada abad 300-900 SM tato dan berbagai perhiasan tubuh berkembang pesat pada suku Maya, Inca, dan Aztec. Selain itu, tato sebagai alat medis juga dapat ditemui pada masyarakat Mesir dan Afrika Selatan. Suku Nuer di Sudan menggunakan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Pada suku bangsa Kirdi dan Lobi, Afrika Tengah, terdapat tato berukuran kecil di bagian wajah, tepatnya di mulut membentuk desain segitiga yang disebut wobaade. Tato ini bertujuan menghindarkan diri dari gangguan setan. Di Cina tepatnya pada suku Drung dan Dai perajahan tubuh dan wajah merupakan hal yang biasa. Tato digunakan sebagai perlambang dewasa bagi anak perempuan yang memasuki usia 12-13 tahun. Tato di berbagai suku bangsa punya motif dan ruang interpretasi masing-masing, begitupun juga di Jepang, India, Burma, Vietnam, dan juga termasuk di Nusantara.

Secara historis, tato telah menjadi sebuah seni merajah tubuh yang umum di kawasan Asia Tenggara pada kurun zaman Niaga, yakni sekitar 1450-1680 M. Dahulu sekali tato digunakan sebagai penanda status sosial suatu masyarakat tertentu. Praktik tato pada abad 17 mulai menyusut ketika berbagai agama besar masuk, seperti Islam dan Kristen. Namun beriringan dengan menyusutnya tradisi bertato, para pelaut atau pelancong asal Inggris seperti James Cook telah membawa tato pada masyarakat urban kota dengan hasil penemuannya ketika mengunjungi pulau-pulau di hampir separuh bumi. Sehingga pada hari ini orang-orang kota banyak yang bersolek dengan tato. Hanya beda pemaknaan saja, kebanyakan alasan estetik.

Negeri terkutuk ini pernah mengalami masa-masa mengerikan pada kurun waktu 1983-1985, khususnya bagi orang-orang bertato. Atas nama stabilitas nasional, orde baru telah mengebumikan ratusan atau malah ribuan manusia bertato karena dianggap sebagai kriminal dengan modus operasi Petrus a.k.a Penembakan Misterius. Pada masa itu pun orang-orang bertato tidak boleh bekerja pada pemerintah seperti menjadi PNS, ABRI, dan sejenisnya. Sama seperti di Jepang pada tahun 720 M di bawah Kekaisaran Shogun yang menganggap kriminal bagi orang-orang bertato lantas menghukumnya dengan hukum kaisar, hanya tak sampai dibunuh seperti yang dilakukan orde baru. Tato mulai bangkit kembali di Jepang sekitar tahun 1700 M. Selain sebagai pengungkapan rasa estetis, tato bagi orang kelas menengah bawah Jepang juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuh dengan tato. Pada gilirannya kelompok mafia terkenal seperti Yakuza menghiasi tubuhnya dengan tato tertentu sebagai identitas kelompoknya. Bahkan, instrumen Negara seperti militer (baca: Samurai) pada era Tokugawa menggunakan tato sebagai penanda bahwa ia adalah seorang Samurai atau hanya sekedar menarik perhatian perempuan.

Sedangkan di Indonesia tato kembali bangkit pasca 1998, setelah lengsernya Suharto dari tahta mega kuasa, kredo kebebasan berekspresi menggaung ke seantero negeri mengingat betapa horornya rezim orde baru saat itu terhadap ekspresi estetis, termasuk tato. Anak-anak muda mulai bangga memamerkan tubuhnya yang penuh tato, meskipun bagi sebagian orang hal ini masih dianggap sesuatu yang devian. Alasan, kenapa anak-anak muda pada hari ini bertato tak lebih dari soalan estetis. Arus modernitas telah mendistorsi dan mereproduksi makna tato pada awal kemunculannya. Tato adat nusantara kini terancam punah. Laju modernisme salah satu penyebab yang pertama, dan yang kedua: tentu saja stigmatisasi yang digencarkan pemerintahan orde baru yang masih melekat di ingatan publik. Generasi muda suku dayak Iban kini tak banyak menggunakan tato, jikapun ditemukan tato pada tubuhnya, seperti alasan anak muda lainnya ia hanya bersinggungan dengan estetika belaka, lebih tepatnya keren-kerenan. Mirip lomba balap karung saat 17 agustusan, dalam hal ini, siapa yang paling estetis, dialah pemenangnya. Memang tak ada yang keliru tentang itu. Toh ini bukan soal mana yang tepat dan keliru. Namun, di sisi yang paling tepi, hal ini juga menunjukan absennya ruang apresiasi terhadap tradisi tato masyarakat adat.

Oleh karenanya, asumsi bahwa tubuh merupakan entitas yang aneh, tak bisa dienyahkan begitu saja. Pasalnya, identitas tubuh dapat terserap ke dalam berbagai nilai, prasangka hingga diskriminasi. Fokus permasalahan tubuh tidak bisa begitu saja dipersempit pada permasalahan penafsiran dan pemaknaan. Sebab, tubuh juga mempunyai koneksitas material dengan relasi kekuasaan sehingga tubuh pun tak lepas dari dimensi politik dan kebijakan negara. Aku menyetujui sebuah pendapat bahwa sejarah keberadaan tubuh sebenarnya adalah sejarah tatanan atau orde. Tubuh bukanlah entitas yang genetis saja, melainkan juga bersifat evolutif dan diakronik. Sejarah sosial politik dan budaya telah membentuk konsepsi mengenai tubuh sehingga tubuh terserap ke dalam perbedaan klasifikasi sosial, hierarki politik, dan struktur budaya yang pada gilirannya membentuk sebuah orde atau tatanan.

Pertanyaan tentang, milik siapakah tubuhku-tubuhmu ini? Diriku, dirimu, atau negara, huh? Mungkin, mungkin terjawab dikelanjutan saga berikutnya.

RI 1?

Apa yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1? Tentunya anda sudah mendengar dalam 10 tahun belakangan, nuansa pendidikan kita berada dalam krisis kegembiraan. Dalam catatan PISA rank kita berada di posisi 64, peringkat kedua dari yang terakhir. Apakah kami harus bersedih? Tentu saja tidak perlu, karena kesedihan kami tidak pantas ditempatkan di sana. Tahun lalu anggaran pendidikan kita mencapai 32 T. Itu angka yang fantastis! Dan itu berasal dari pajak masyarakat, lalu apa yang masyarakat dapatkan darinya?

Anda tentu mendengar jika seorang siswi di Bali bunuh diri karena tak sanggup menghadapi Ujian Nasional, banyak yang mendadak sakit karenanya, intinya; nuansa pendidikan menjadi depresif. Ini bersebrangan dengan apa yang dicita-citakan bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yang seharusnya anak-anak tumbuh sesuai kodrat dan kemauannya, pendidik hanya berkebolehan untuk mendorong kekuatan-kekuatan itu, bukan dipaksa apa yang dimau pemerintah yang menjurus pada robotisasi akal, yang berimbas pada kemiskinan empati, dan hanya mementingi yang individual. Atau jangan-jangan pikiran-pikiran kolonial masih menyantol di pikiran para konseptor pendidikan kita? Ah, inikah 32 triliun itu?

Oya, Bung, mungkin ini pertanyaan elementer yang tak pernah bosan kami singgung pada [calon] penguasa, beranikah anda untuk mensejahterakan pendidik tanpa pandang bulu, maksud saya menjamin Kebutuhan Layak Hidup para pendidik secara merata. Di Banten, seorang pendidik bekerja paruh waktu sebagai ojek getek, di Indonesia Timur, Papua tepatnya, seorang pendidik digaji 50 ribu sebulan, di kota-kota kecil para pendidik tak mampu berdaulat secara ekonomi, dan lain-lain, dan lain-lain. Inikah hasil penggelontoran 32 triliun itu? Atau ke manakah mereka larinya?

Jadi, apa sebetulnya yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1?