Keluh Kesah Keruh

Subsidi BBM itu semacam repetisi kekonyolan yang tak banyak disadari kawan-kawanku, tepatnya, oleh kelas menengah (ke bawah, mentok, whatsoever you call it). Sebetulnya, aku sendiri cukup bingung masuk ke dalam kelas mana mengingat pendapatanku jauh dari kebutuhan layak hidup, meskipun mampu ngeblog, atau bermain sosial media lainnya aku meragukan klaim keberadaan kelas menengah pada diriku. Krisis identitas kelas? Mungkin saja. Karena aku hidup di antara kelas menengah yang keberadaannya tak mampu kuraih secara penuh. Ada gap yang tegas antara kami (honorer) dan mereka (PNS). Tapi toh hidup harus terus berlanjut meskipun terkencing-kencing dikejar kebutuhan dengan mencari tambahan dari pekerjaan lain. Aku merayakannya.

Presiden berganti dengan harapan akan ada perubahan secara menyeluruh pada nasib masing-masing kami, lebih tepatnya diriku, namun seperti biasa aku dikecewakan lagi dengan naiknya BBM di saat harga minyak dunia turun yang mengotomatisasi naiknya harga-harga lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana pergantian kepala negara selalu melahirkan pemujaan dan harapan yang berakhir dengan kekecewaan.

Begitukah watak pemerintahan, memberi harapan palsu pada rakyatnya? Dan yang tak kalah menyebalkannya tak sedikit kelas menengah yang menyuruh mengubah pola hidup agar hemat. Katakanlah, aku mengubah konsumtivitasku. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda ke kantor –toh tak disuruh pun aku sudah melakukannya, atau yang lebih moron menggunakan transportasi publik. Dan, untuk yang terakhir inilah yang menimbulkan keambangan menjalani rutinitas mengingat begitu buruknya transportasi di sini. Buruk sekali. Dengan menjalankan sistem yang sama (baca: kapitalisme kontemporer) maka output-nya pun akan sama pula, bahkan dalam 1 dekade ke depan pun. Kita tak akan berubah. Dan engkau mengatakan ubahlah pola hidupmu. Sedang melucukah engkau? Atau mungkin bodoh karena kepalanya tak senantiasa diisi dengan pengetahuan mengenainya, atau mungkin juga naif, dungu, namun yang jelas amat menyebalkan! Subsidi BBM tak akan mengubah nasibku, engkau, jika sistem yang dijalankan masih sama seperti sebelumnya. Tidak tepat sasaran subsidi akan selalu ada, ketimpangan sosial ekonomi akan selalu ada selama pola-pola kemarin masih dipelihara. Aku cukup menyesal kemarin masuk ke dalam bilik kotak suara. Mungkin, nasibku hanya bisa berubah tanpa mengharap lagi pada pemerintah.

Dasar lubang pantat!

Advertisements

Soalan Tato

Era posmodernisme antara lain ditandai oleh pergeseran dari pluralitas interpretasi menuju kemajemukan realitas; yang utama bukan lagi epistemologi dan pengetahuan, melainkan ontologi dan praktek. Dalam tatapan tersebut posisi tubuh jadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan, lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis. Kesadaran akan sentralitas tubuh semacam ini pada gilirannya memicu munculnya pertanyaan dan pernyataan (secara kebahasaan maupun non-bahasa) seputar sifat dasar (nature) tubuh itu sendiri: bagaimana kemandirian dan atau ketergantungan tubuh alami pada kekuatan lain di sekitarnya, kekuatan-kekuatan yang membentuk kesadaran dan pengalaman ketubuhan.

Tato pertama kali dilakukan pada tubuh manusia kira-kira 5300 tahun lalu, tergambar pada tubuh mumi Otzi The Iceman yang terdapat 57 tato pada tubuhnya, setidaknya itulah yang ditemukan para arkeolog. Tato, pada mulanya bermakna sesuatu yang suci dan sakral. Pada abad 300-900 SM tato dan berbagai perhiasan tubuh berkembang pesat pada suku Maya, Inca, dan Aztec. Selain itu, tato sebagai alat medis juga dapat ditemui pada masyarakat Mesir dan Afrika Selatan. Suku Nuer di Sudan menggunakan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Pada suku bangsa Kirdi dan Lobi, Afrika Tengah, terdapat tato berukuran kecil di bagian wajah, tepatnya di mulut membentuk desain segitiga yang disebut wobaade. Tato ini bertujuan menghindarkan diri dari gangguan setan. Di Cina tepatnya pada suku Drung dan Dai perajahan tubuh dan wajah merupakan hal yang biasa. Tato digunakan sebagai perlambang dewasa bagi anak perempuan yang memasuki usia 12-13 tahun. Tato di berbagai suku bangsa punya motif dan ruang interpretasi masing-masing, begitupun juga di Jepang, India, Burma, Vietnam, dan juga termasuk di Nusantara.

Secara historis, tato telah menjadi sebuah seni merajah tubuh yang umum di kawasan Asia Tenggara pada kurun zaman Niaga, yakni sekitar 1450-1680 M. Dahulu sekali tato digunakan sebagai penanda status sosial suatu masyarakat tertentu. Praktik tato pada abad 17 mulai menyusut ketika berbagai agama besar masuk, seperti Islam dan Kristen. Namun beriringan dengan menyusutnya tradisi bertato, para pelaut atau pelancong asal Inggris seperti James Cook telah membawa tato pada masyarakat urban kota dengan hasil penemuannya ketika mengunjungi pulau-pulau di hampir separuh bumi. Sehingga pada hari ini orang-orang kota banyak yang bersolek dengan tato. Hanya beda pemaknaan saja, kebanyakan alasan estetik.

Negeri terkutuk ini pernah mengalami masa-masa mengerikan pada kurun waktu 1983-1985, khususnya bagi orang-orang bertato. Atas nama stabilitas nasional, orde baru telah mengebumikan ratusan atau malah ribuan manusia bertato karena dianggap sebagai kriminal dengan modus operasi Petrus a.k.a Penembakan Misterius. Pada masa itu pun orang-orang bertato tidak boleh bekerja pada pemerintah seperti menjadi PNS, ABRI, dan sejenisnya. Sama seperti di Jepang pada tahun 720 M di bawah Kekaisaran Shogun yang menganggap kriminal bagi orang-orang bertato lantas menghukumnya dengan hukum kaisar, hanya tak sampai dibunuh seperti yang dilakukan orde baru. Tato mulai bangkit kembali di Jepang sekitar tahun 1700 M. Selain sebagai pengungkapan rasa estetis, tato bagi orang kelas menengah bawah Jepang juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuh dengan tato. Pada gilirannya kelompok mafia terkenal seperti Yakuza menghiasi tubuhnya dengan tato tertentu sebagai identitas kelompoknya. Bahkan, instrumen Negara seperti militer (baca: Samurai) pada era Tokugawa menggunakan tato sebagai penanda bahwa ia adalah seorang Samurai atau hanya sekedar menarik perhatian perempuan.

Sedangkan di Indonesia tato kembali bangkit pasca 1998, setelah lengsernya Suharto dari tahta mega kuasa, kredo kebebasan berekspresi menggaung ke seantero negeri mengingat betapa horornya rezim orde baru saat itu terhadap ekspresi estetis, termasuk tato. Anak-anak muda mulai bangga memamerkan tubuhnya yang penuh tato, meskipun bagi sebagian orang hal ini masih dianggap sesuatu yang devian. Alasan, kenapa anak-anak muda pada hari ini bertato tak lebih dari soalan estetis. Arus modernitas telah mendistorsi dan mereproduksi makna tato pada awal kemunculannya. Tato adat nusantara kini terancam punah. Laju modernisme salah satu penyebab yang pertama, dan yang kedua: tentu saja stigmatisasi yang digencarkan pemerintahan orde baru yang masih melekat di ingatan publik. Generasi muda suku dayak Iban kini tak banyak menggunakan tato, jikapun ditemukan tato pada tubuhnya, seperti alasan anak muda lainnya ia hanya bersinggungan dengan estetika belaka, lebih tepatnya keren-kerenan. Mirip lomba balap karung saat 17 agustusan, dalam hal ini, siapa yang paling estetis, dialah pemenangnya. Memang tak ada yang keliru tentang itu. Toh ini bukan soal mana yang tepat dan keliru. Namun, di sisi yang paling tepi, hal ini juga menunjukan absennya ruang apresiasi terhadap tradisi tato masyarakat adat.

Oleh karenanya, asumsi bahwa tubuh merupakan entitas yang aneh, tak bisa dienyahkan begitu saja. Pasalnya, identitas tubuh dapat terserap ke dalam berbagai nilai, prasangka hingga diskriminasi. Fokus permasalahan tubuh tidak bisa begitu saja dipersempit pada permasalahan penafsiran dan pemaknaan. Sebab, tubuh juga mempunyai koneksitas material dengan relasi kekuasaan sehingga tubuh pun tak lepas dari dimensi politik dan kebijakan negara. Aku menyetujui sebuah pendapat bahwa sejarah keberadaan tubuh sebenarnya adalah sejarah tatanan atau orde. Tubuh bukanlah entitas yang genetis saja, melainkan juga bersifat evolutif dan diakronik. Sejarah sosial politik dan budaya telah membentuk konsepsi mengenai tubuh sehingga tubuh terserap ke dalam perbedaan klasifikasi sosial, hierarki politik, dan struktur budaya yang pada gilirannya membentuk sebuah orde atau tatanan.

Pertanyaan tentang, milik siapakah tubuhku-tubuhmu ini? Diriku, dirimu, atau negara, huh? Mungkin, mungkin terjawab dikelanjutan saga berikutnya.

Hell Broke Luce

I had a good home but I left
I had a good home but I left, right, left
That big fucking bomb made me deaf, deaf
A Humvee mechanic put his Kevlar on wrong
I guarantee you’ll meet up with a suicide bomb
Hell broke luce
Hell broke luceBig fucking ditches in the middle of the road
You pay a hundred dollars just for fillin’ in the hole
Listen to the general every goddamn word
How many ways can you polish up a turd
Left, right, left, left, right
Left, right
Hell broke luce
Hell broke luce
Hell broke luceHow is it that the only ones responsible for making this mess
Got their sorry asses stapled to a goddamn desk
Hell broke luce
Hell broke luce
Left, right, left

What did you do before the war?
I was a chef, I was a chef
What was your name?
It was Geoff, Geoff
I lost my buddy and I wept, wept
I come down from the meth
So I slept, slept
I had a good home but I left, left
Pantsed at the wind for a joke
I pranced right in with the dope
Glanced at her shin she said nope
Left, right, left

Nimrod Bodfish have you any wool
Get me another body bag the body bag’s full
My face was scorched, scorched
I miss my home I miss my porch, porch
Left, right, left

Can I go home in March? March
My stanch was a chin full of soap
That rancid dinner with the pope
Left, right, left

Kelly Presutto got his thumbs blown off
Sergio’s developing a real bad cough
Sergio’s developing a real bad cough
Hell broke luce
Hell broke luce
Hell broke luce

Boom went his head away
And boom went Valerie
What the hell was it that the president said?
Give him a beautiful parade instead
Left, right, left

When I was over here I never got to vote
I left my arm in my coat
My mom she died and never wrote
We sat by the fire and ate a goat
Just before he died he had a toke
Now I’m home and I’m blind
And I’m broke
What is next

 

RI 1?

Apa yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1? Tentunya anda sudah mendengar dalam 10 tahun belakangan, nuansa pendidikan kita berada dalam krisis kegembiraan. Dalam catatan PISA rank kita berada di posisi 64, peringkat kedua dari yang terakhir. Apakah kami harus bersedih? Tentu saja tidak perlu, karena kesedihan kami tidak pantas ditempatkan di sana. Tahun lalu anggaran pendidikan kita mencapai 32 T. Itu angka yang fantastis! Dan itu berasal dari pajak masyarakat, lalu apa yang masyarakat dapatkan darinya?

Anda tentu mendengar jika seorang siswi di Bali bunuh diri karena tak sanggup menghadapi Ujian Nasional, banyak yang mendadak sakit karenanya, intinya; nuansa pendidikan menjadi depresif. Ini bersebrangan dengan apa yang dicita-citakan bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yang seharusnya anak-anak tumbuh sesuai kodrat dan kemauannya, pendidik hanya berkebolehan untuk mendorong kekuatan-kekuatan itu, bukan dipaksa apa yang dimau pemerintah yang menjurus pada robotisasi akal, yang berimbas pada kemiskinan empati, dan hanya mementingi yang individual. Atau jangan-jangan pikiran-pikiran kolonial masih menyantol di pikiran para konseptor pendidikan kita? Ah, inikah 32 triliun itu?

Oya, Bung, mungkin ini pertanyaan elementer yang tak pernah bosan kami singgung pada [calon] penguasa, beranikah anda untuk mensejahterakan pendidik tanpa pandang bulu, maksud saya menjamin Kebutuhan Layak Hidup para pendidik secara merata. Di Banten, seorang pendidik bekerja paruh waktu sebagai ojek getek, di Indonesia Timur, Papua tepatnya, seorang pendidik digaji 50 ribu sebulan, di kota-kota kecil para pendidik tak mampu berdaulat secara ekonomi, dan lain-lain, dan lain-lain. Inikah hasil penggelontoran 32 triliun itu? Atau ke manakah mereka larinya?

Jadi, apa sebetulnya yang akan anda lakukan untuk mengubah sistem pendidikan kita jika terpilih menjadi RI 1?

Kontrol: Memainkan Bola Ping-Pong Di Atas Meja Biru

Aku begitu penasaran, dari beberapa pertandingan yang dihelat kenapa Pak Tarmadji nyaris selalu unggul dariku? Cuma sekali aku pernah unggul darinya. Memang kemenangan bukanlah soal utama bagiku, toh, pertandingan ini bukanlah pertandingan berskala besar, dan lagi niatku bermain adalah untuk membangkitkan keringat dari dalam tubuh dan mencecerkan sebanyak-banyaknya ke udara, namun tetap saja aku penasaran dengan gaya permainan lawanku, dan trick yang dia gunakan saat bertanding denganku.

Menurut pengamatanku sejauh ini tekhnik permainan lawanku itu sebetulnya biasa saja, spin dan backhand pun jarang masuk, jika tak, nyangkut di net. Jika dihitung satu set pertandingan dalam memberikan spin dan backhand, jelas aku selalu lebih banyak darinya dan hampir smash-smash-ku menghasilkan point untukku. Meski begitu lawanku itu berhasil mengkontrol emosi dalam dirinya dan cenderung menguasai dan mengarahkan bola kemanapun Ia mau, rasanya inilah yang membuatku terasa berat saat menghadapinya. defense-nya pun cukup kokoh, spin-spin-ku sering dia kembalikan meski di-spin berikutnya Ia tak mampu membendungnya. Jika begitu terus aku cenderung kehilangan kontrol, nampaknya, ada yang salah dengan kontrol emosiku.

Aku pun jadi bertanya-tanya, apakah kontrol emosi itu berhubungan dengan track record seseorang, yang dalam hal ini semakin sering Ia bermain ping-pong, semakin mampu pulalah Ia mengkontrol emosinya sehingga laju bola dengan mudah Ia arahkan dan mainkan. Yang kutahu Pak Tarmadji telah akrab dengan permainan ping-pong sejak muda dan memang usianya kini jauh di atasku. Jauh sekali.

Bermain ping-pong memang membutuhkan konsentrasi tinggi, dan seringnya konsentrasiku mendadak buyar ketika spin-spin yang ku lesatkan dikembalikan lagi, karenanya emosiku pun memuncak, aku semakin bergejolak. Dalam momen seperti itu lawanku memainkan emosi diriku dengan kuasa bolanya, mengarahkan ke kiri dan ke kanan yang membuat konsentrasiku makin kabur, chaos dan hilang lenyap bersama teriakan konyol  dan hembusan angin. Inilah persoalanku yang mesti kutaklukan, sepertinya.

if you can control yourself, you could control your world.

Tentang Kalilah Wa Dimnah

Puisi hanya akan terasa indah karena adanya olahan bahasa sebelumnya yang kemudian dikomunikasikan. Seperti halnya puisi Pablo Neruda yang berjudul, Tonight I can Write yang sejalan dengan puisi Saut Situmorang, Hujan dan Memori. Bagi saya kedua puisi tersebut mampu menghadirkan nuansa yang sublim akan nostalgia, ke-khusyuk-an terhadap masa lalu yang darinya kita mampu merasai estetika kebahasaannya, barangkali inilah salah satu cara mencipta momentum melalui olahan kata. Melalui bahasa, kreativitas seseorang akan semakin bertambah setiap harinya yang berarti ada aktivitas imajinasi di dalamnya. Rupanya berangkat dari sanalah Einstein menemukan rumus MC2 (Em Si Kuadrat) yang dipertegas oleh perkataannya sendiri bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Meski begitu bahasa tidak akan lepas dari logika sedangkan logika adalah alat untuk mempermudah bahasa itu sendiri (Ecce Homo, F. Nietzsche).

Sejak zaman Sebelum Masehi (SM) sastra sudah menjadi media yang penting bagi perkembangan suatu masyarakat. Peradaban yang maju didorong pula oleh budaya literasinya, mustahil suatu kemajuan akan dicapai tanpa ketatnya budaya literasi di dalamnya, dalam hal ini berarti bahasa sebagai induk dari sebuah kemajuan peradaban. Tan Malaka tidak akan menjadi Pejuang dan Inspirasi Besar apabila ia alpa dengan bahasa mengingat ia telah menguasai lebih dari tujuh bahasa dengan baik dan juga menelurkan 15 buku itu. Pramoedya Ananta Toer tidak akan disebut sastrawan besar apabila ia tak mengakrabi diri dengan berbagai literasi dan melahirkan karya karenanya. Sebagaimana filsuf abad ke-16 Francis Bacon yang menulis esei Believe Of The Fable karena terinspirasi dari Dongeng Kalilah Wa Dimnah terjemahan Ibnu al-Muqoffa dari bahasa Persia ke Inggris. Ibnu al-Muqoffa sendiri hidup di era Khilafah Abasiyah Ia dikenal sebagai seorang ahli penerjemah bahasa-bahasa asing di zamannya. Pengaruh bahasa yang ditampilkan Ibnu al-Muqoffa juga tercermin dalam karya-karya setelahnya, seperti halnya pada karya Kahlil Gibran, Al-Nabi dan bahkan pada Freidrich Nietzsche, Sabda Zarathustra.

Kalilah Wa Dimnah merupakan Dongeng (ada juga yang menyebutnya Hikayat) karya filsuf India yakni Baidaba atau juga dikenal Bedapa. Ibnu al-Muqoffa menerjemahkan karya tersebut tanpa mengubah inti arti karya aslinya. Bedapa menyisipkan cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Kalilah Wa Dimnah dibuat atas permintaan raja Debsyalem, raja India pada abad ke-3 SM yang sebelumnya dikenal bengis, kejam, tak kenal belas kasih terhadap rakyat yang dianggapnya bersalah. Hingga pada suatu hari Bedapa yang juga penganut Brahmanisme itu memberanikan diri untuk menasehati sang raja karena telah menzholimi rakyat. Seorang Brahmanisme pada zaman itu dikenal juga sebagai ahli hikmah atau juga seorang ulama. Namun yang menarik dari Bedapa adalah Ia menasehati raja dengan caranya yang “nyastra”. Bedapa menciptakan tokoh-tokoh binatang dalam karyanya namun tokoh-tokoh itu seperti mewakili kehidupan manusia itu sendiri. Ada intrik, politik, cinta, persahabatan, pembunuhan, kerakusan, dll. Inilah keunikan Bedapa dalam mengangankan tokoh-tokoh ciptaannya sehingga bagi kalangan remaja, bahkan anak-anak, buku ini tidak bertendensi terlampau serius malah terasa ringan tanpa harus melupakan hikmah yang terkandung di balik setiap cerita.

Tercatat bahwa raja Debsyalem tidak lantas menerima begitu saja nasehat-nasehat Bedapa. Pada awalnya, raja berang atas apa yang telah disampaikan Bedapa kepadanya bahwa pokok dari yang dikatakan Bedapa adalah kesewenang-wenangan dirinya terhadap rakyat bahkan raja menyiksa Bedapa dalam penjara dan akan dihukum mati karena dianggap lancang atas perkataannya tetapi raja berbalik pikir mengingat Bedapa adalah ulama besar di zamannya, pada akhirnya ia menyadari bahwa apa yang telah dikatakan Bedapa itu benar adanya. Raja pun membebaskan Bedapa dari hukuman. Semenjak itu raja mengangkat Bedapa sebagai seorang penasehat karena tertarik dengan cara “nyastranya”. Hingga kemudian raja meminta untuk mengkitabkan kisah-kisah yang pernah disampaikan padanya. Bedapa pun menulis dan menyusun kisah itu selama setahun yang dikemas berbingkai. Kisah-kisah itu terdiri dari 15 kisah, (1) Kera dan Kura-Kura, (2) Ahli Ibadah dan Musang, (3) Ahli Ibadah dan Tamunya, (4) Pelancong, Tukang Emas, Kera, Ular, dan Macan Tutul, (5) Merpati, Musang, dan Bangau, (6) Singa dan Sapi, (7) Penyelidikan dalam Kasus Dimnah, Singa Betina, Pemanah Ulung dan Anjing Hutan, (8) Elada, Belada, dan Erakhta, (9) Putra Raja dan Para Sahabat-sahabatnya, (10) Burung Hantu dan Burung Gagak, (11) Tikus dan Kucing, (12) Raja Baridun dan Burung Fanzah, (13) Ratu Merpati Mutawwaqa, (14) Tikus dan Gagak, (15) Singa dan Serigala. Pada mulanya, di India, kumpulan kisah ini dikenal dengan Panchatantra (Bahasa Sansakerta). Saya pun jadi curiga jangan-jangan kisah epos besar Mahabharata adalah turunan dari Panchatantra yang kini dikenal dengan Kalilah Wa Dimnah ini.

Di antara ke-lima belas dongeng di atas yang paling saya sukai adalah Singa dan Sapi. Menceritakan tentang dua orang sahabat yang saling menyayangi dan mengasihi yakni raja Singa dan sapi Syatrabil yang jalinannya hendak dihancurkan oleh keledai Dimnah. Kedekatan sapi Syatrabil dan raja Singa membuat Dimnah iri dan dengki kepada Syatrabil, karena kedudukkan Syatrabil dalam pemerintahan Singa melebihi kedudukkan Dimnah. Dongeng Singa dan Sapi memang bermuatan politis namun ringan untuk dicerna. Dimnah adalah seorang cerdik lagi licik yang juga gigih dalam melaksanakan niatannya Ia melakukan segala cara untuk menghasut Singa supaya Syatrabil mendapat hukuman mati. Singa pun berhasil diperdaya Dimnah. Lalu, sapi Syatrabil pun akhirnya menemui ajal di tangan Singa. Bagi saya di sinilah letak kecerdasan “bersastra” Bedapa karena tokoh-tokoh yang diciptakan dalam Kalilah Wa Dimnah adalah nama-nama binatang yang berarti ada kelucuan khas saat membacanya. Tak dapat dipungkiri dalam dunia manusia sendiri watak permasalahan seperti itu mudah ditemui. Fitnah, tipu, culas, dengki, arogansi, dendam, hasud, provokasi, janji palsu dan hal-hal sejenis adalah bagian dari kebinatangan manusia-manusia juga, kalau bukan, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).

Dongeng  mempunyai tempat tersendiri bagi para pembacanya, sebagaimana genre buku-buku lain. Dongeng juga merupakan bentuk sastra yang memiliki peran besar dalam pembentukan karakter manusia, khususnya anak-anak. Berbagai karakter dalam dongeng akan memengaruhi pikiran anak-anak untuk meneladani karakter tokoh yang terdapat dalam dongeng. Dengan dongeng seseorang tergolong lebih mudah dan komunikatif menyampaikan gagasan dan buah pikirannya. Barangkali Bedapa berkeinginan agar karyanya dapat dijangkau oleh anak-anak. Sehingga tokoh-tokoh binatang pun mejadi pilihan dalam Kalilah Wa Dimnah. Sebagaimana dongeng ia memantik imaji cerita dan bahasa yang diakhiri dengan lautan hikmah. Dan Kalilah Wa Dimnah adalah buah pikiran seorang filsuf India yang hidup di zaman Sebelum Masehi yang karya-karyanya patut direnungkan.

Mono Mengguyur Hujan

Malam itu teater terbuka Dago Tea House (Bandung) diguyur hujan tak henti-hentinya. Padahal menurut perakiraan cuaca ini sudah memasuki april. Seharusnya hujan tak perlu bertandang lama-lama. Saya pun menyisipkan harapan naïf dalam hati semoga satu bintang saja muncul di atas sana namun langit nampakya  tetap enggan membuka tirainya yang gelap. Hampir seharian kota yang dahulu indah itu ditumpahi air dari ketinggian langit.

Sejak sore saya sudah hadir di tempat itu. Di mana sebuah pertunjukan seni adiluhung yang saya nantikan dari bulan-bulan lalu atau mungkin kawan-kawan saya menantikannya menahun, akan segera digelar. Post-rock Grup asal Jepang, Mono, akan bergegas mengguyur hujan malam ini. Cukup mengesalkan ketika jadwal dari yang disepakati sebelumnya diundur karena cuaca. Namun tak apa. Karena saya tahu kelak semua itu akan terbayar lunas. Saya akan lekas mengerti bahwa Mono bakal membuat saya tak sadarkan diri –yang bila dalam istilah para junkie adalah stokun.

Kami hadir di tempat ini hanya dengan satu alasan. Ekstase berjama’ah lewat suguhan instrumentalis yang seringnya menciptakan keajaiban-keajaiban baru secara sengaja. Keajaiban yang disengaja itu dikemas dalam konsep mini konser yang menghasilkan out-put yang amat tidak pantas bila cuma disebut mini. Membuat kepercayaan saya makin tebal bahwa musik adalah suatu perwujudan yang lebih tinggi dari filsafat. Sebuah romantisme klasik.

Bagi sebagian orang barangkali hujan malam itu adalah anugerah atau mungkin juga musibah namun bagi saya hujan malam itu adalah momen yang bakal terwariskan. Di mana saya seolah memungut serpihan kesunyian sejarah yang makin didalami terasa makin absurd lewat sajian instrumental Mono yang banyak dipengaruhi komposer macam Beethoven itu, namun dengan packaging musik yang dirasa mengoriental. Begitupun, setidaknya membuktikan satu hal bahwa bangsa asia bukanlah bangsa inferior, tak bermutu dalam segala-gala. Meski kembali diwakili oleh Jepang. Membosankan memang. Kadang saya jadi bertanya-tanya inikah out-put  dari konsep restorasi Meiji yang memberi kebebasan dan support untuk berkreasi pada muda-mudi Jepang? Yang mampu mencapai nilai-nilai artistik tak terkatakan seperti ini? Bisa iya bisa juga tidak. Yang jelas hujan pun diperhebat oleh suhu yang makin dingin meruncing menusuk-nusuk.

***

Sebagian penonton memang mendapat jas hujan dan atau payung –saya menduga jika mereka mendapatkannya dari kawanannya yang EO, sedang saya tidak sama sekali meski sudah berupaya mencarinya. Saya cuma dibaluti jaket yang dapat dengan mudah ditembusi angin, hujan, dan dingin. Perlahan tapi pasti air mengecupi pakaian yang saya kenakan, tak lama kemudian merembes ke sekujur badan. Dan itu membuat tubuh saya menggigil kedinginan. Seandainya dibalut jas hujan atau jaket paling tebal sekalipun saya rasa itu tidak akan mengubah dingin bertukar hangat. Namun semua itu bukan apa-apa dibanding dengan apa yang saya saksikan malam itu.

Pertunjukan mega indah pun telah dimulai. Lagu pertama dibuka dengan Legend dari album yang dirilis september  tahun lalu, For My Parents. Petikkan minimalis Hideki yang disusul long delay Takaa dalam polesan crescendos memancing teriakkan penonton. Sebuah komposisi khas yang seringnya mengaduk-aduk hati. Dari sini saya pun mulai diajak memasuki ruang transenden Takaakira Goto cs lewat instrumen-nya itu. Gerbang pun terbuka, seakan saya diajak mengikuti ritual penghormatan besar pada sosok yang menginspirasi hidup di tengah situasi yang serba pesimistis. Efek long delay  bernuansa orientalis yang amat khas itu entah kenapa  sepertinya telah lama sekali akrab ditelinga, begitu emosianalnya, ia memantik alam bawah sadar menuju ruang yang di mana saya dapat menyaksikan orang-orang sebelum saya menceritakan cita-citanya yang sempat tercapai, tiba-tiba harus runtuh karena arogansi perang dunia. Pertemuan yang mengesankan sekaligus mengharukan pun terjadi pada saat lagu akan berakhir. Eksekusi Takaa berkerumun sound efek tipikal asianis itu terasa mencabik-cabik hati, dibarengi dentuman big tom-tom Takada yang terdengar megah. Dentuman itu seolah tombol raksasa yang mengubah saya menjadi seonggok debu yang pecah melayang ke segala arah bersama butiran hujan. Begitu indah. Membuncah ke berbagai penjuru angin. Menuju waktu yang mengejutkan. Yang tak satu setan pun tahu.

Pasca pertunjukan berakhir  seorang kawan bahkan mengakui jika ia menangis karena lagu ini. Saya tidak tahu kenapa. Iblis pun tidak. Apalagi kalian yang absurd identitas. Cukuplah biar dia saja yang tahu. Sepertinya itu memang baik baginya

Kemudian, disusul Nostalgia, masih dari For My Parents. Sejenak saya tertunduk. Berkaca pada masa yang telah terlewat. Rumah. Masa kecil. Masa penuh kebebasan. Imajinatif. Kejujuran. Harapan. Keinginan yang polos. Karang Taruna.  Cita-cita yang bersih.  Ajaran. Budaya. Patriarkis. Feodalis parasatisme. Nilai. Pendidikan. Norma. Agama. Kini, kemanakah mereka semua pergi? Perlukah semua itu? Lalu, sekarang kita mau jadi apa setelah ini? Pertanyaan-pertanyaan kuno yang cukup mengharu ungu, tentunya. Lagu ini berakhir memukau dengan dentingan sunyi glockenspiel yang ternyata baru saya ketahui jika itu sejenis gamelan atau kulintang.

Hujan terus mengguyur konsisten. Tak ada tanda-tanda akan berhenti. Warna lighting yang berubah-ubah sukses mendramatisir suasana. Suhu dingin mulai menggerayangi tulang sum-sum. Namun saya malah makin khusyuk menyaksikan mereka. Dan, denting  piano lewat sentuhan lembut Tamaki Kunishi (satu-satunya personil wanita) –selain memainkan bass Tamaki juga memainkan keys, perlahan menggeregap telinga yang siap mengkonsumsi suara indah itu, dan agaknya gerbang sejarah lekas dibuka kembali. Sebuah repetisi indah dari Dream Odyysey. Seperti mengeja kembali mimpi-mimpi ideal umat manusia pra-evolusi. Tuts piano di awal lagu menyeret saya pada sebuah romantisme kuno yang belum pernah saya sambangi sebelumnya. Dalam sekejap menukar realitas memuakkan dengan mimpi-mimpi baru yang memang tak pernah benar-benar baru, harapan-harapan baru yang tak pernah benar-benar baru. Atau barangkali memang sejarah dikabarkan dari perenungan panjang hasil dari tetesan keharuan, kekaguman, kemegahan, kesedihan, kegetiran yang hampir selalu berakhir pada lembaran pesimisme antik. What’s really our dream anyway, Oddysey?

Di sela-sela break. Gemuruh suara penonton menggema di antara rincikkan hujan yang tak bosan-bosan membasahi kami. Namun hal itu tidak akan membuat saya gagal untuk menikmati setiap keajaiban malam itu. Persetan dengan hujan, angin, dan dingin. Nampak jari tangan Hideki bergerak pelan memetik deretan senar yang disusul Takaa pada part-part selanjutnya.  Are You There? pun diperdengarkan. Sebuah pertanyaan eksistensialis yang cukup serius. Salah satu lagu favorit saya dari album You Are There yang diproduksi 2005 lalu, perlahan petikkan minimalis itu merayap pada pikiran dan sanubari saya. Slow motions space is in here. Hampir sepanjang lagu seakan mewakili orang yang sedang dilanda patah hati bertalu-talu. Namun diakhirnya seolah menegaskan dengan santai bahwa jika kamu cinta terhadap sesuatu berbuatlah sesuatu untuk apa yang kamu cintai. Are you there? Here I’am….. O my red butterfly.

Suhu dingin makin beringas. Hujan terus berjatuhan. Saya makin tak peduli dengan situasi. Saya tak tahu lagi setlist mereka. Pikiran saya mulai menguap ke angkasa raya yang gelap. Yang jelas semua lagu mereka telah saya akrabi. Dari situ saya mulai bermanunggal dengan noise Hideki, dengan dentuman set drum Takada, dibawanya saya ke tengah samudera maha luas tak bertepi, menyusul long delay dan aksi teatrikal individual Takaa yang ternyata meruntuhkan penjara dalam tubuh saya. Debaman bass Tamaki Kunishi membikin tubuh saya berantakkan, berhamburan di setiap trotoar jalanan. Tubuh saya berubah menjadi kenangan setiap pojokkan warung-warung kopi. Di sawah. Hutan. Sekolah. Kebun pohon-pohon karet. Dari Ciremai sampai Kilimanjaro. Sabang hingga Madagaskar. Saya merasa menyerah dihadapan semesta keindahan ini. Dihadapan butiran hujan pun saya hanyalah anak-anak atom yang tak berdaya. Sepertinya ini mimpi.

Ah, tapi bukan. Saya masih dapat melihat jelas pasangan suami istri yang masih muda membawa payung dengan membawa anak yang agak mengganggu pandangan saya ke depan stage.  Namun akhirnya mereka mengerti dengan segera mereka menundukkan payung yang mengganggu pemandangan itu. Saya mulai mencoba melihat ke sekeliling. Dan saya yakin mereka sama seperti saya, tidak sadarkan diri. Mabuk isotonik musik bernama Mono.

Long noise Hideki dan Taka mulai terdengar lagi beriringan dengan tuts Tamaki Hunishi. Saya melihat Takada sedang merunduk lunglai di atas kursi yang merebah di antara tam-tam dan tom-tom. Karena dia tahu betapa disayangkannya lagu yang begitu menakjubkan ini bila tak diresapi sepenuh hati. Saya pun mengikutinya. Saya merunduk memejam mata. Diiringi air yang berjatuhan di atas kepala. Betapa indahnya lagu ini. Noise yang dihasilkan kedua gitaris mumpuni itu lagi-lagi membawa saya pada ketidaktahuan obyektif. Suara keyboards yang memanjang seperti sebuah perjalanan kosmik. Di mana yang ada hanyalah mercusuar keindahan dan kemegahan belaka, senaif apapun dunia ini. Di pertengahan lagu sampai akhir Takada mulai bangkit dari runduknya. Karena pada part ini drum harus dimainkan. Inilah lagu yang sungguh membuat saya tak sadarkan diri. Komposisi yang maha indah bukan kepalang. Saya tidak tahu apa mungkin di surga sana komposisi seperti ini akan dimainkan? Cahaya dari setiap sudut nampak berdatangan. Menyalami saya dengan elegan. Saya membolak-balikan kepala dan tubuh saya ke dalam cahaya-cahaya itu. Ke kanan dan ke kiri. Hanya terdapat cahaya di mana-mana. Menyembul dari kejauhan yang entah. Meski cahaya ini adalah cahaya perpisahan. The great Everlasting Light song. Dan cahaya perpisahan ini pun menandakan bahwa pertunjukan  akan segera berakhir.

Sebagaimana yang dinyatakan Takaakira Goto sang lead guitar bahwa, Music is communicating the incommunicable; that means a term like post-rock doesn’t mean much to us, as the music needs to transcend genre to be meaningful.” Yea. We felt it. Meaningful. Terima kasih Mono atas pertunjukan hebatnya.

Wednesday, April 10, 2013