Feel

Menyelamiku Untuk Menyelamimu

Ia meminta didatangi. Dihangati. Dinyalakan. Dijaga. Ia membisikkan sesuatu yang mesti engkau jelajahi. Tanpa ragu. Menghanguskan ilusi biner warisan purba di mana polesan maskara mendominasi langkah kaki. Meraih hari kembali sebelum bekas luka-luka lama menyerupai ledakkan kembang api yang kubenci tiba menghampiri. Hampir membunuh. Mengelupasi rasa-rasa. Memekakan relung jiwa. Menenggelamkan mimpi hingga dalam. Kini, ia bangkit kembali serupa Kronos yang dibangkitkan sebongkah pedang api, ia hendak melampiaskan hak primordial dengan lekas, memanggil dan dipanggil agar: menuntaskan hasrat.

Advertisements

Rinai, Dimensi Hujan Jatuh Saat Mentari Tenggelam

Aku tidak meminta pada siapapun untuk menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku. Aku adalah aku sebagaimana diriku. Meski aku tahuk, aku begitu lemah ketika kita saling memandang. Senyummu, tahik lalatmu, suaramu, menenangkan keapianku. Konon, orang yang lahir pada hari selasa memiliki sifat-sifat api secara lebih kental. Dan memang eksis dalam diriku bara itu. Dalam situasi kondisi tertentu, aku dapat dengan mudah terpancing emosi, sulit berpikir jernih, kekanak-kanakkan. Tetapi, hanya memandangmu, memerhatikan simpul senyum bertahik lalat di atas bibirmu cenderung menciptakan kedamaian dalam diriku, kusadari, aku memang punya kecenderungan mendadak tenang hanya dengan memandang perempuan yang kusukai. Entah sejak kapan perasaan seperti itu muncul dari dalam diriku. Hanya baru kusadari sekarang. Keluguanmu, sejujurnya seringkali membuatku tertawa, dan kusimpan hanya dalam malam. Saat hening mencapai telak. Menepikannya pada sunyi memakam dalam ruang yang tak terlalu besar ini. Ruang tempat aku bekerja, makan, dan terlelap. Kita memang sudah tahuk perihal kesunyian yang tercatat di dalam. Ada yang selalu jatuh dari langit sana, setiap senja, sebelum suara adzan menggema. Ada yang selalu menangkap matamu di daratan ini, dekat, erat seperti percik air menempel di tepi kaca jendela.

Belum Juga Usai: Kemerduanmu

Engkau membaca puisi disertai kelincahan gerak tubuhmu yang lentur dan sedikit lebar. Ke kiri dan ke kanan, maju juga mundur. Aku tak henti-hentinya menatapmu, memerhatikan setiap gerakmu. Backsound menambah nuansa panggung makin sublim.

Engkau membacakan puisi Rendra, hanya aku lupa dengan judulnya. Bukan Sebatang Lisong, bukan pula Pesan Pencopet Pada Pacarnya karena aku hapal betul keduanya. Mataku tertuju padamu sepenuhnya. Enerjik, pikirku. Penampilanmu mengalihkan puisi yang engkau baca saat itu. Nampaknya, engkau terbiasa melakukannya. Engkau sudah terlatih dengan baik. Aku suka. Sangat suka.

Suaramu begitu merdu, tidak terlalu keras memang, engkau meninggi-rendahkan bait-bait yang kiranya pas untuk ditekan ke atas atau pun agak rendah. Ditambah dengan ekspresionis tubuhmu yang lunglai. Seperti kupu-kupu yang baru menetas dari kepompong. Aku pun bergidik dibuatnya.

Setelah penampilanmu aku meminta temanku mengenalkanmu padaku, sebelumnya engkau sudah saling kenal memang. Kemudian engkau dan temanku menghampiriku, memperkenalkan namamu, begitupun juga aku.

Sesuai dugaanku, engkau sudah terbiasa melakukannya. Membaca puisi dengan penuh penghayatan, menjiwainya, menjadikannya menyatu denganmu. Engkau melakukannya sejak SMA, katamu. Merdu, pelan, dengan senyuman yang lucu.

Puisi pun selesai hanya sampai di situ, puisi itu tuntas hingga di sana. Mungkin. Mungkin?