komunitas

Bila Tak Bisa Diperbaiki Biarkan Menjadi Danur

Sebuah komunitas, atau mungkin lebih tepatnya tempat orang-orang yang butuh berteman tapi ia tak tahuk ke mana harus pergi memang tak akan bertahan lama dan tak layak juga dipertahankan. Kehadiran di dunia nyata tak lebih dari tuntutan moral massa virtual agar eksistensi dan citranya tetap terjaga. Tak pernah sekalipun aku mendengar dari mulut mereka akan dibawa ke mana eksistensi komunitas itu?

Mungkin memang tak ada yang diperjuangkan. Dan berjuang untuk apa dan siapa memangnya? Namun hal yang jelas terlihat, makna eksis bagi mereka ialah semakin sering namanya bertebaran di lini kala virtual semakin melonjaklah nilai eksistensialnya. Itulah makna eksistensi bagi mereka. Atau malah makna eksistensi hari ini sebagaimana istilah “Punk Hari Ini”. Keduanya punya benang merah yang sama. Sama-sama menggelikan. Di mana keduanya berlomba mengalienasi dirinya sendiri dengan berharap nilai tertentu dari sebuah gerakan yang palsu.

Hah, gerakan? Kupikir kata itu terlalu konyol ditempatkan di sini, kumpulan biasa, mungkin lebih tepat. Barangkali saking hidup terlampau sepi untuk diisi dan tak tahuk ke mana harus pergi berkumpulpun menjadi pilihan karena manusia pada dasarnya ingin saling mengisi dan diisi. Yang menjadi masalah adalah disorientasi pada kegiatan (hura-hura pun tidak! Parah. Haha) Juga miskinnya imaji tentang kenapa sebuah kolektif mesti dibentuk?

Aku tidak anti-media mengingat ini abad media mana mungkin aku menolak keadaan itu hanya saja bukankah sosial media akan tampak sangat berguna apabila digunakan secara tepat guna? Ada keberimbangan antusiasme antara realitas dan virtual. Tapi yang kutemui malah sebaliknya. Hanyalah tontonan. Tontonan yang buruk.

Advertisements