politik

Neo Imperialisme AS

olahneo imperium

 

Penulis: Noam Chomsky
Penerbit: Resist Book
Yogyakarta ISBN: 978-979-109-768-0.
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Bisa Ditanya di https://standbuku.wordpress.com/katalog/

Blurb:
Tidak bisa dipungkiri bahwa Amerika Serikat adalah negeri super power yang menjadi pemimpin dari tata dunia saat ini. Ia menjadi kiblat dalam kemajuan dan kemodernan. Namun Chomsky mencoba membongkar dan mengubah mitos AS, baginya AS tidak lebih dari negara Imperialis yang brutal dan biadab. Kemajuan AS dibangun di atas penindasan terhadap penduduk aslinya, terhadap para buruh dan juga penjajahan yang dilakukan di negara dunia ketiga. Media, lembaga pendidikan menjadi alat untuk memanipulasi kemodernan AS dan pembodohan terhadap bangsanya sendiri.

***

Tak banyak buku yang dibaca pada tahun 2015, seperti biasa berlindung dibalik argumentum ad absurdum yaitu, bergelut dengan ‘kesibukan’ yang sesungguhnya menyerupai Sisyphus yang mendorong-dorong bebatuan ke atas bukit lantas menurunkannya kembali kemudian naik lagi, turun lagi dan begitu secara konstan, atau dalam satu kata: kerja. Untuk memenuhi dahaga konsumtivisme, jika enggan dikatakan rutinitas banal yang suistainable pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Begitu-begitu saja dari dulu. Ya, begitu-begitu saja. Tapi bukan, bukan itu alasan terbesarnya melainkan dalam satu kata juga: malas. Tahun ini mungkin semacam mengadakan pembalasan atas apa yang terjadi pada tahun lalu. Tahun 2016 ini, memulai dengan bacaan dari seorang yang cukup berpengaruh dalam pemikiran radikal abad ini, yakni Noam Chomsky dengan Neo Imperialisme Amerika Serikat yang kini sedang engkau baca pandangan dangkalnya mengenai buku ini.

Siapa yang bisa menyangkal bahwa Amerika bukan negeri mega power. Betapa tidak? Dengan satu klik tombol dan sebuah instruksi saja, ia mampu menghancurkan sebuah teritori. Lebur dan hancur. Kita telah menyaksikan bagaimana Iraq dihantam terjangan dhrone. Ia seakan menjadi poros utama modernitas bahkan melampauinya dalam aspek apapun dan menjadi mekah bagi mereka kaum pemuja ‘kemajuan’ yang dalam prakteknya haruslah mengadakan penghancuran yang satu dan juga yang lainnya, eksploitatif dalam segala di balik adagium majunya. Mengucurkan derita di mana-mana. Seakan negeri-negeri lain tak mampu membendung hasrat berkuasa Sang Amerika. Lebih jauh lagi melalui pemaparan buku ini, ia menancapkan apa yang sudah terjadi pada masa Pasca Kolonial dalam bentuk sempurnanya yang disebut Imperialisme, dan pada saat yang sama membuat kita percaya bahwa manusia adalah makhluk paling buas dari yang terbuas manapun. Secara pribadi juga aku mengamini bahwa kita memang makhluk paling buas.

Bukankah Amerika katanya penganjur demokrasi paling wahid, menomorsatukan HAM dengan mengizinkan legalitas pernikahan sesama jenis, mengadakan keliling galaksi yang mengutus NASA untuk meneliti Planet Mars atas nama ilmu pengetahuan dan teknologi yang kelak-konon-katanya akan bermanfaat bagi manusia-manusia bumi (dan masih layakkah disebut manusia apabila di Mars telah ditemukan makhluk sejenis kita?), maupun Sillicon Valley yang menggemparkan dunia dengan start up-start up yang berdiri di sana dan menghasilkan miliaran dollar, dan masih banyak lagi mitos tentang Amerika lainnya. Ya memang aku katakan, mitos. Engkau tak salah baca.

Mengapa bisa?

Mungkin, sebagian dari kita belum lupa dengan pemberontakan kaum Sandinista di Nikaragua pada 1933 karena kediktatoran maha akut Somozo sang pemimpin, ataupun warga Kuba, El Salvador, Havana, Paraguay, Kosta Rika, Haiti, Iraq, Afghanistan dan bahkan belakangan ini Palestina. Meskipun yang kita pandang yang melayangkan rudal dan menghujani anak-anak Palestina dengan white phosphorus itu seolah instruksi dari elit-elit Israel pada bala tentaranya, namun kita tahu siapa  Negara di belakang yang mendesain hal demikian di negara-negara yang baru kusebutkan di atas. Ah, iya bukankah hal ini juga terjadi di Papua hari ini? Dan bukankah yang demikian itu adalah praktek-praktek Imperialisme yang di mana perebutan-perebutan atas kepentingan, atau tepatnya kekuasaan dilakukan dengan cara apapun termasuk mengadakan genosida. Demi demokrasi Amerika.

Jhon Dewey, seorang pemikir Amerika yang pragmatis, yang Chomsky punya hutang banyak terhadapnya bahwa suatu waktu ia pernah berkata, salah satu tujuan pendidikan adalah untuk menghayati nilai-nilai kehidupan dan hidup itu sendiri bukan untuk menguasai nilai ataupun mereduksinya untuk menguasai yang lain yang berakhir pada keinginan untuk saling menjatuhkan satu dan lainnya, yang berarti menjatuhkan hidup dan kehidupan itu sendiri. Lalu, bagaimana Imperialisme bisa dikukuhkan di Negeri yang banyak melahirkan pemikir-pemikir dunia itu? Dan mengapa tidak ada perlawanan dan pertentangan dari masyarakatnya sendiri? Apa strategi yang dipakai oleh negara super power tersebut untuk menghegemoni warganya? Buku ini menganalisis bagaimana ideologi imperialisme ditanamkan, dan untuk memahami apa prasyarat-prasyarat yang mesti diciptakan oleh setiap kekuasaan mencapai tujuan-tujuan buasnya. Dan ini mungkin salah satu buku yang tepat untuk dibaca awal tahun ini!

Advertisements

Keluh Kesah Keruh

Subsidi BBM itu semacam repetisi kekonyolan yang tak banyak disadari kawan-kawanku, tepatnya, oleh kelas menengah (ke bawah, mentok, whatsoever you call it). Sebetulnya, aku sendiri cukup bingung masuk ke dalam kelas mana mengingat pendapatanku jauh dari kebutuhan layak hidup, meskipun mampu ngeblog, atau bermain sosial media lainnya aku meragukan klaim keberadaan kelas menengah pada diriku. Krisis identitas kelas? Mungkin saja. Karena aku hidup di antara kelas menengah yang keberadaannya tak mampu kuraih secara penuh. Ada gap yang tegas antara kami (honorer) dan mereka (PNS). Tapi toh hidup harus terus berlanjut meskipun terkencing-kencing dikejar kebutuhan dengan mencari tambahan dari pekerjaan lain. Aku merayakannya.

Presiden berganti dengan harapan akan ada perubahan secara menyeluruh pada nasib masing-masing kami, lebih tepatnya diriku, namun seperti biasa aku dikecewakan lagi dengan naiknya BBM di saat harga minyak dunia turun yang mengotomatisasi naiknya harga-harga lainnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya di mana pergantian kepala negara selalu melahirkan pemujaan dan harapan yang berakhir dengan kekecewaan.

Begitukah watak pemerintahan, memberi harapan palsu pada rakyatnya? Dan yang tak kalah menyebalkannya tak sedikit kelas menengah yang menyuruh mengubah pola hidup agar hemat. Katakanlah, aku mengubah konsumtivitasku. Mengurangi menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda ke kantor –toh tak disuruh pun aku sudah melakukannya, atau yang lebih moron menggunakan transportasi publik. Dan, untuk yang terakhir inilah yang menimbulkan keambangan menjalani rutinitas mengingat begitu buruknya transportasi di sini. Buruk sekali. Dengan menjalankan sistem yang sama (baca: kapitalisme kontemporer) maka output-nya pun akan sama pula, bahkan dalam 1 dekade ke depan pun. Kita tak akan berubah. Dan engkau mengatakan ubahlah pola hidupmu. Sedang melucukah engkau? Atau mungkin bodoh karena kepalanya tak senantiasa diisi dengan pengetahuan mengenainya, atau mungkin juga naif, dungu, namun yang jelas amat menyebalkan! Subsidi BBM tak akan mengubah nasibku, engkau, jika sistem yang dijalankan masih sama seperti sebelumnya. Tidak tepat sasaran subsidi akan selalu ada, ketimpangan sosial ekonomi akan selalu ada selama pola-pola kemarin masih dipelihara. Aku cukup menyesal kemarin masuk ke dalam bilik kotak suara. Mungkin, nasibku hanya bisa berubah tanpa mengharap lagi pada pemerintah.

Dasar lubang pantat!

Soalan Tato

Era posmodernisme antara lain ditandai oleh pergeseran dari pluralitas interpretasi menuju kemajemukan realitas; yang utama bukan lagi epistemologi dan pengetahuan, melainkan ontologi dan praktek. Dalam tatapan tersebut posisi tubuh jadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan, lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis. Kesadaran akan sentralitas tubuh semacam ini pada gilirannya memicu munculnya pertanyaan dan pernyataan (secara kebahasaan maupun non-bahasa) seputar sifat dasar (nature) tubuh itu sendiri: bagaimana kemandirian dan atau ketergantungan tubuh alami pada kekuatan lain di sekitarnya, kekuatan-kekuatan yang membentuk kesadaran dan pengalaman ketubuhan.

Tato pertama kali dilakukan pada tubuh manusia kira-kira 5300 tahun lalu, tergambar pada tubuh mumi Otzi The Iceman yang terdapat 57 tato pada tubuhnya, setidaknya itulah yang ditemukan para arkeolog. Tato, pada mulanya bermakna sesuatu yang suci dan sakral. Pada abad 300-900 SM tato dan berbagai perhiasan tubuh berkembang pesat pada suku Maya, Inca, dan Aztec. Selain itu, tato sebagai alat medis juga dapat ditemui pada masyarakat Mesir dan Afrika Selatan. Suku Nuer di Sudan menggunakan tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Pada suku bangsa Kirdi dan Lobi, Afrika Tengah, terdapat tato berukuran kecil di bagian wajah, tepatnya di mulut membentuk desain segitiga yang disebut wobaade. Tato ini bertujuan menghindarkan diri dari gangguan setan. Di Cina tepatnya pada suku Drung dan Dai perajahan tubuh dan wajah merupakan hal yang biasa. Tato digunakan sebagai perlambang dewasa bagi anak perempuan yang memasuki usia 12-13 tahun. Tato di berbagai suku bangsa punya motif dan ruang interpretasi masing-masing, begitupun juga di Jepang, India, Burma, Vietnam, dan juga termasuk di Nusantara.

Secara historis, tato telah menjadi sebuah seni merajah tubuh yang umum di kawasan Asia Tenggara pada kurun zaman Niaga, yakni sekitar 1450-1680 M. Dahulu sekali tato digunakan sebagai penanda status sosial suatu masyarakat tertentu. Praktik tato pada abad 17 mulai menyusut ketika berbagai agama besar masuk, seperti Islam dan Kristen. Namun beriringan dengan menyusutnya tradisi bertato, para pelaut atau pelancong asal Inggris seperti James Cook telah membawa tato pada masyarakat urban kota dengan hasil penemuannya ketika mengunjungi pulau-pulau di hampir separuh bumi. Sehingga pada hari ini orang-orang kota banyak yang bersolek dengan tato. Hanya beda pemaknaan saja, kebanyakan alasan estetik.

Negeri terkutuk ini pernah mengalami masa-masa mengerikan pada kurun waktu 1983-1985, khususnya bagi orang-orang bertato. Atas nama stabilitas nasional, orde baru telah mengebumikan ratusan atau malah ribuan manusia bertato karena dianggap sebagai kriminal dengan modus operasi Petrus a.k.a Penembakan Misterius. Pada masa itu pun orang-orang bertato tidak boleh bekerja pada pemerintah seperti menjadi PNS, ABRI, dan sejenisnya. Sama seperti di Jepang pada tahun 720 M di bawah Kekaisaran Shogun yang menganggap kriminal bagi orang-orang bertato lantas menghukumnya dengan hukum kaisar, hanya tak sampai dibunuh seperti yang dilakukan orde baru. Tato mulai bangkit kembali di Jepang sekitar tahun 1700 M. Selain sebagai pengungkapan rasa estetis, tato bagi orang kelas menengah bawah Jepang juga dimaksudkan sebagai reaksi disiplin terhadap hukum menyangkut cara hidup konsumtif. Pada waktu itu orang kaya di Jepang biasa berpakaian dengan hiasan. Oleh karena itu, sebagai resistensinya, kaum menengah bawah menghiasi tubuh dengan tato. Pada gilirannya kelompok mafia terkenal seperti Yakuza menghiasi tubuhnya dengan tato tertentu sebagai identitas kelompoknya. Bahkan, instrumen Negara seperti militer (baca: Samurai) pada era Tokugawa menggunakan tato sebagai penanda bahwa ia adalah seorang Samurai atau hanya sekedar menarik perhatian perempuan.

Sedangkan di Indonesia tato kembali bangkit pasca 1998, setelah lengsernya Suharto dari tahta mega kuasa, kredo kebebasan berekspresi menggaung ke seantero negeri mengingat betapa horornya rezim orde baru saat itu terhadap ekspresi estetis, termasuk tato. Anak-anak muda mulai bangga memamerkan tubuhnya yang penuh tato, meskipun bagi sebagian orang hal ini masih dianggap sesuatu yang devian. Alasan, kenapa anak-anak muda pada hari ini bertato tak lebih dari soalan estetis. Arus modernitas telah mendistorsi dan mereproduksi makna tato pada awal kemunculannya. Tato adat nusantara kini terancam punah. Laju modernisme salah satu penyebab yang pertama, dan yang kedua: tentu saja stigmatisasi yang digencarkan pemerintahan orde baru yang masih melekat di ingatan publik. Generasi muda suku dayak Iban kini tak banyak menggunakan tato, jikapun ditemukan tato pada tubuhnya, seperti alasan anak muda lainnya ia hanya bersinggungan dengan estetika belaka, lebih tepatnya keren-kerenan. Mirip lomba balap karung saat 17 agustusan, dalam hal ini, siapa yang paling estetis, dialah pemenangnya. Memang tak ada yang keliru tentang itu. Toh ini bukan soal mana yang tepat dan keliru. Namun, di sisi yang paling tepi, hal ini juga menunjukan absennya ruang apresiasi terhadap tradisi tato masyarakat adat.

Oleh karenanya, asumsi bahwa tubuh merupakan entitas yang aneh, tak bisa dienyahkan begitu saja. Pasalnya, identitas tubuh dapat terserap ke dalam berbagai nilai, prasangka hingga diskriminasi. Fokus permasalahan tubuh tidak bisa begitu saja dipersempit pada permasalahan penafsiran dan pemaknaan. Sebab, tubuh juga mempunyai koneksitas material dengan relasi kekuasaan sehingga tubuh pun tak lepas dari dimensi politik dan kebijakan negara. Aku menyetujui sebuah pendapat bahwa sejarah keberadaan tubuh sebenarnya adalah sejarah tatanan atau orde. Tubuh bukanlah entitas yang genetis saja, melainkan juga bersifat evolutif dan diakronik. Sejarah sosial politik dan budaya telah membentuk konsepsi mengenai tubuh sehingga tubuh terserap ke dalam perbedaan klasifikasi sosial, hierarki politik, dan struktur budaya yang pada gilirannya membentuk sebuah orde atau tatanan.

Pertanyaan tentang, milik siapakah tubuhku-tubuhmu ini? Diriku, dirimu, atau negara, huh? Mungkin, mungkin terjawab dikelanjutan saga berikutnya.