Reflection

Senja Yang Menghadirkan Masa (II)

Persisnya aku lupa ketika berkenalan denganmu saat itu. Mungkin hanya spontan saja. Kita bertukar nomor hp begitu saja. Lalu, besoknya kita sama-sama memutuskan untuk melihat tempat-tempat di seputaran kota ini. Kota yang asing, pikirku. Tetapi keasingan ini agak berbeda. Membuatku merasa nyaman, malah. Memang darah priangan bergejolak kental di sini mungkin karenanya aku tak merasa benar-benar asing. Karena aku telah cukup akrab dengan situasi kota-kota priangan. Masih dalam lingkup tradisi yang sama di mana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Engkau hanya mengetikan alamat lewat sms sebuah tempat di mana kita mengadakan pertemuan. Bertemu. Tentu saja agar kita mampu lebih mengenal satu sama lain, paling tidak tak hanya di ruang virtual. Kusanggupi tempat yang engkau sms-kan. Aku pun antusias. Lekas bergegas dari mess dan hanya bermodal angkot disertai uang Rp.50,000, aku cukup nekat saat itu. Bukan nekat sebetulnya, konyol lebih tepat. Kekonyolanku pun memuncak ketika, ternyata, engkau membawa serta teman-temanmu. Genk-mu. Hal yang tak pernah kupikir sebelumnya. Sialan! Sebagai lelaki yang ketat menjaga citra kelelakiannya di mana mentraktir perempuan adalah kewajiban yang sudah mirip sembahyang hal ini dapat jadi kabar buruk buat pencitraanku.

Otomatis dugaan tiba-tiba pun muncul mengalir, pasti genk-mu akan meminta traktir. Benar saja, ke Mall main Billyard. Astaga. Mengingat uangku hanya Rp,50,000, saja dipotong 2x ngangkot sisa Rp,44,000, huahaha. Kalian telah menghentikan napasku sepersekian detik.

Akhirnya, kita semuapun hanya berakhir di warung kopi. Dengan membuang urat gengsi-malu-menyedihkan, kusuruh teman-temanmu pulang duluan sesudah minum kopi di warung kopi itu. Runtuh sudah pencitraanku. Lebur.

Setelah mereka pergi akupun hanya berbincang dan berjalan denganmu, membagikan pengalaman hidup masing-masing, kemudian berhenti di tukang es buah sambil menghitung recehan dalam dompet dalam hati, menyisakannya agar aku dapat mengantarkanmu pulang selain mencairkan suasana memalukan seperti tadi, tentu saja. Setidaknya senja mega mendungpun pun menelusup ke dalam es yang kita cecapi. Rasanya itu Xanax artifisial buatku. Haha

Malam pelan-pelan menjalar. Kecanggungan antara kita sedikit memudar. Aku mengajakmu pulang karena mustahil rasanya mengajakmu untuk makan sate. Kita hentikan angkot. Turun darinya. Menghentikannya lagi. Lalu berakhir di sebuah lapangan hijau terbentang, sepertinya lapangan itu tempat nangkring macam-macam komunitas motor, aku melihat motor berjejeran di sana. Berbagai merk. Berbagai Bentuk.

Engkau memang tak ingin pulang malam itu, engkau ingin bertemu temanmu dulu di sana, di antara kawanan itu. Dan aku ingin cepat pulang ke mess, ingin melupakan hari itu lekas. Langit saat itu begitu cerah, aku menghentikan angkot disertai sebatang rokok terakhir, mengepulkan asapnya ke udara berupaya meraih kerlip bintang namun tak pernah sampai, seolah bintang-bintang di kejauhan sana memertontonkan tawa mencemooh. Rerumputan ikutan terbahak. Pohon-pohon tercekikik. Kota ini menertawakanku. Mereka menertawakanku. Engkau, mungkin juga menertawakanku.

Advertisements

Senja Yang Menghadirkan Masa (I)

Hampir 3 tahun lalu. Di kota ini, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan pernah kudiami. Tak lama memang, kurang dari setahun, kisaran delapan bulan saja. Dalam rangka ‘aktivisme’ sekaligus mencari tambahan uang agar bertahan di situ kala itu. Cukup kompleks ketika aku harus tinggal di Kota ini sementara sidang skripsi saat itu tinggal beberapa minggu lagi, di Kota lain pulak. Ah, aku sudah menutup cerita soal studiku itu.

Disebut kompleks karena ini berkaitan dengan hal-hal politik, tentara, bahkan klenik. Tentara? Hahaha. Klenik? Holy-Crap! Ya, memang saat itu aku menginap di sebuah mess kepunyaan salah satu Mayjen TNI-AU yang dalam rutinitasnya membaurkan hal-hal di luar nalar normatif secara kolektif. Praktek mitologi yang dipaksakan pada era posmodern seperti sekarang. Namun, semakin ke sini aku hanya menganggapnya sebagai bentuk kearifan lokal saja. Penanda identitas waktu dan massa dahulu kala. Warisan tradisi. Pengalaman yang lumayan berharga. Meski sebagian orang memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadi. Aku benci pada bagian ini.

Kuakui memang di Kota ini juga aku banyak mendapat pelajaran penting soal hidup. Perspektif baru dalam memandang hidup terutama setelah membaca karya-karya Tan Malaka yang makin diperkuat lagi dengan mendengar dan menafsirkan Homicide. Kolektif hip-hop yang sudah menjadi kultus bagi sebagian orang. Semenjak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi memang. Dan memang bagiku mereka begitu inspirasional! Bukankah sebaik-baiknya memberi adalah menginspirasi?

Kini, aku kembali lagi ke Kota ini. Kali ini dalam rangka hanya  pekerjaan. Aku telah resign dari pekerjaan lama. Pekerjaan yang sempat kubela sepenuh energi namun harus kurelakan pergi. Menyerah? Kalah? Munafik? Mungkin. Mungkin. Aku tak keberatan dikatakan demikian. Yang pasti aku gagal bertahan di sana, dan yang mengataiku tak akan bisa menghentikan kesusahan-kesusahanku saat menjalani hari, memberi senangpun mustahil rasanya. Maka yang kupilih saat ini adalah adaptasi agar esok hari lebih baik dari hari ini. Sesederhana itu.

Kota ini, meski cumak ditinggalkan nyaris 3 tahun olehku ternyata sudah banyak perubahan. Salah satu kelebihanku dalam merasakan perubahan adalah hanya dengan menghirup udaranya. Penciumanku cukup peka dalam mendeteksi oksigen yang tercecer di udara. Mungkin ini suatu bakat alam. Aku bisa merasai udara di sekitar sini bahwa di sini makin pengap. Tak sama. Tak akan pernah sama lagi sepersis aku di sini kala itu. Meskipun tak sepengap Jakarta atau Bekasi.

Bukankah wajar jika kita menempatkan perspektif bahwa kota ini akan bertransformasi menjadi Kota Wisata, persisnya Industri Wisata. Cukup masuk akal karena Kota ini cumak terpaut puluhan mil dari Ibu Kota di mana pusat kapital berputar. Orang akan membutuhkan udara segar ketika akhir pekan tiba, Kota ini pun menjadi pilihan di antara sedikit pilihan, selain Bandung tentu saja. Yang biasanya akan sesak sekali bila akhir pekan datang. Aku tak tahuk secara pasti sejak kapan kota Bandung menjadi tempat perayaan kecil-kecilan massa pekerja. Namun dengan begitu makin menjamur pulaklah lumpen proletariat di sana. Seperti di Kota ini. Persis.

Kupikir hanya satu yang tak berubah di sini yaitu, senjanya. Aku selalu suka ketika senja melintas di Kota ini. Entahlah, karena jika di kota-kota lain sensasinya juga lain. Semacam hadir sublimitas yang menyentuh bagian diriku.