Month: May 2013

Sekilas Tentang “Creep”

Sepertinya lagu ini menjadi soundtrack hari ini. Betapapun penulis liriknya (Thom Yorke) sendiri menganggap bahwa lagu ini adalah lagu yang paling menjijikan yang pernah ia bikin. Lagu ini memang sesumbar akan ke-galau-an seseorang. Seperti diriku. Ya, memang. Aku sedang galau. Galau yang personal. Menurut KBBI ga·lau, ber·ga·lau, ialah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran); ke·ga·lau·an dan sifat (keadaan hal) galau. Boleh juga dibilang lagu ini tentang “kegalauan” total. Terlebih karena wanita! Anjisssssss! Weirdo kieu aing…. Setuju sekali kalau lagu ini memang ultra-“menjijikan”. Cuih! Cuih! Cuih! Ku rasa ini adalah hari terakhir aku menyetel Creep.

Namun, secara penghayatan harus ku akui lagu ini berkompeten menyeret pendengar pada lembah frustasi hiperbolis. Sewaktu aku menerobos hutan you tube secara tak sengaja aku melihat seorang penyanyi perempuan membawakan Creep dengan penuh penghayatan. Range-dynamic komposisi musik mengombak-ombakkan telinga dan isi dada. Plus arrangement semi jazz, semi pop-rock yang terdengar pas. Hanya saja tak sampai pada nuansa Gloomy Sunday-nya Rezsco Serres yang super dark-jazz, full of depreshit. Meskipun potensi ke sana sebetulnya tetap ada di lagu ini.

Pada saat mencapai klimaks di part “she’s runing out again…run…run….run”, hawa depresi lagu ini tertularkan dengan sukses. “Ya. Aku depresi. Frustasi. Sakit hati. Remuk. Hancur. Berkeping-keping. Berkeping-keping. Karenamu.” Begitulah kira-kira kalau dibahasakan dengan kata lainnya. Terdengar seperti “manifesto” anak-anak SMA era digital seperti sekarang. LOL :p

Thom Yorke memang vokalis ajaib, ia salah satu penyanyi favoritku selain Denis Lyxzen. Thom mengadopsi Dada cut-up style dalam menuliskan setiap liriknya. Di mana sebuah teks dipotong-potong sedemikian rupa ke bagian-bagian yang lebih kecil secara acak, untuk kemudian dibentuk kembali dalam sebuah teks baru. Dan selamat datang di alam magis yang amat personal. Sedang Lyxzen menulis lirik perlawanan total pada sistem yang tak beres dengan radikal-intelektual nan jenius (terutama saat masih di Refused). Penjaga gerbang kewarasan. Kadang aku bermimpi gimana kalau mereka bikin project album bersama saja? Seperti Clive Cusler drumer Portishead yang berkontribusi untuk album The King of Limbs, Radiohead.

Apa jadinya hard-core punk revolusioner dipadu dengan pop is dead yang tak jarang berbentuk elektronis eklektis ala Kid A atau TKOL? Tentu bakal menawarkan sesuatu yang menyegarkan di ranah musik. Pastinya bukan wacana yang membosankan untuk dibahas. Tapi konyol juga sih…..terlalu jauh...Come what may, sekonyol apapun impianku akan kolaborasi mereka tentunya tak sekonyol pada pilihanku untuk tak perlu lagi menyetel Creep selama-lamanya. *Kok jadi panjang begini…
image

Advertisements

Untitled

“she turn on the light she make my day so bright then now the light off i surrounded by inky dark” #Np ruins -Polyester Embassy

Aku sedang ingin menepi. Pada sepi yang memanggil setelah hujan mengguyur kepalaku yang dihantam rindu suaramu. Engkau kadung membiarkan laut ditubuhku mengepalkan ombak ditengah karang kata rayu yang terdengar sangat menjijikan. Mencintaimu memang bukan pekerjaan seperti memetik bintang dilangit yang penuh omong kosong melainkan memeluk kesederhanaan. Yang seribu kali meminta pengertian dan kegigihan.

Sesudah

#Np First Breath After Coma ~Explossion In the Sky

barangkali benar akan sebuah sesumbar. yang membuatmu percaya hari esok kan lebih baik adalah harapan. barangkali benar bahwa ditiap rintikkan hujan kita dapat merasakan sensasi kehadiran tuhan. barangkali benar jika rindu sembilu memang tak mampu digapai nalar. barangkali benar bahwa saat kita menutup kita tak akan membutuhkan cungkup. atau mungkin juga benar bahwa kita hanya perlu mewariskan gairah dan harapan.

Indoneistika

#Np Providence ~Godspeed You! Black Emperror

Dunia politik semakin tidak menarik untuk diikuti. Meskipun pada kenyataannya aku tak pernah mampu apatis terhadapnya. Apalagi sebentar lagi bakal digelar pemilu presiden. Spanduk nihilisme total dipajang dimana-mana. Partai-partai besar memencretkan bau tengik berupa janji-janji kepada rakyat. Ah, sudahlah….

Seandainya hidup tak pernah bersinggungan dengan bau busuk politik (entah ‘p’ kecil maupun ‘P’ besar) barangkali setiap orang akan menemukan kesadaran bahwa kita berhak untuk hidup bahagia, makmur, dan sejahtera. Hidup bersandingan dengan spirit kekeluargaan. Tak pandang klas sosial. Tak pandang gender. Tak pandang agamamu apa. Dari ras mana? Keturunan mana? Tak pandang garis demarkasi. Equality is reality. Ah, betapa naifnya mimpi macam begitu.

Sejauh manakah sesungguhnya kesadaran politis warga? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas banyak terdapat warga yang berbagi keluh kesah seputar ekonomi berikut solusi alternatif ultra-fantastis yang bunyinya; jika kita ingin kaya raya lekas berangkat saja ke tempat dimana terdapat kerajaan-kerajaan ghaib, lalu melakukan ritual dark ages disana. Semacam pantai yang konon Nyi Ratu Laut Kidul bersemayam di istananya yang lebih megah dari istana Queen Elizabeth II. Atau pergi ke gunung-gunung yang tersedia tempat penumbalan anak manusia, pendeknya, satu nyawa ditukar dengan harta tak habis-habis -bagi orang yang sepakat pada persyaratan penumbalan tersebut. Menukar satu nyawa dengan harta. Tak peduli jika itu anak kandungmu sendiri. Deal with the devil yang mereka percaya.

Sedang bagiku, itu konyol sekali. ‘coz real the devil are new-imperialism. Demi Radiohead, Refused, Godspeed, Homicide, dan Alam Semesta dedemit dunia lain tak akan pernah sanggup mengobrak-abrik sistem itu.

Sebagai orang yang tumbuh dan berkembang dengan hal macam begitu, aku percaya tak percaya pada yang berbau siluman, dedemat, dedemit, genderewo, genderewi, jin, jun, dan sebangsanya. Disebut tidak percaya karena aku tak pernah menyaksikan hal-hal begituan dengan mata kepalaku sendiri. Kecuali fenomena alam. Melihat Nyi Roro Kidul dengan mata telanjang pun belum pernah tuh. Kecuali lukisan beraroma konon dan katanya. Lagipula aku tak akan pernah mau melakukan tumbal-menumbal atau apalah. That’s so fuxxxin stupid! Sedang bila disebut percaya tak sedikit kawan-kawan dikampungku yang suka bercerita fakta-fakta ganjil mengenai hal itu. Dengan amat meyakinkan. Hmm. Selangkangan logika mistika, ku kira.

Tapi kalau disimak secara serampangan pun, entah ada berapa ratus pedagang di Indonesia yang menggunakan jasa seorang dukun ngehek anti-manusia dan kemanusiaan konon agar usahanya maju? Andai ada yang melakukan riset mengenainya aku yakin sekali angkanya akan mengejutkan. Jangan-jangan lebih banyak dari para pelaku kriminal di Jakarta setiap tahunnya. Apakah Donald Trump, Bill Gates, menggunakan jasa dukun indian agar real estate dan microsoft-nya super-big sukses? Lebih tepatnya, tamak?

Sesungguhnya, kebijakan pemerintah beserta kerajaan korporasinya lah yang dengan bau berak kita sendiri, amat saling kait-mengait. Serupa ikan dan umpan. Permasalahannya? Siapa pengumpan dan siapa diumpan, apakah umpannya, dst. Lalu mengapa engkau berlari pada apa yang engkau sendiri tak pahami, “dark world”? Sesungguhnya yang demikian itu bukanlah perbuatan cerdas, kawan. Bekerja dan berupayalah sesuai dengan apa yang kalian pahami. Tinggalkanlah dongeng, tegakkan badanmu, angkat cangkulmu, sadarilah bahwa politikus tidak pernah berniat membantumu untuk hidup lebih baik dari hari ini.

(R)ingenue

you know like the back of your hand
who let em in
you got me into this mess so
you get me out

you know like the back of your hand
your bell jar
your collection
ingenue

you got me into this mess
fools rushing in
and they know it

the seeds of the dandelion you blow away
in good time i hope i pray
if i’m not there physically
i’m always before you
come what may

and you know it
fools rushing in
well you know it
who let em in

gone with a touch of your hand
gone with a touch of your hand

move through the moment
though it betrays
transformations
jackals and flames
if i knew now
what i knew then
just give me more time
i hope and pray
i mistake all you say
the seeds of the dandelion you blow away

13 Set #1

Telah lama aku menunggu malam ini. Dimana aku dapat menyalurkan hobiku yang lain, bermain tenis meja. Hari-hari kemarin lapangan sedang sepi. Sehingga tertutup jalan bagiku untuk join. Dan pada malam ini orang tua murid tak diduga mengundangku main. Dengan senang hati aku menyambutnya penuh gegap gempita. 13 Set berturut-turut. Lumayan meletihkan namun tentunya menyegarkan. Sudah beberapa bulan ini aku tak main. Rasanya ada yang kurang dalam hidup.

Ditempat ini aku tak punya lawan tanding. Bukan karena aku mahir atau apa. Tapi aku belum menemukan saja barangkali. Sampai bapak dari anak didikku mengundang bermain. Sedang kawanku tergantung mood saja bila ku ajak sparing. Selain memang kawanku tidak cukup baik ketika memegang bet. Lagipula melawannya memang amat membosankan. hahaha… (jadah!)

Seseorang diantara lawanku, bermain cukup baik, ia mempunyai teknik tingkat tinggi dalam memegang bet. Cara ia memegang bet persis seorang drumer spesialis swing-jazz versi akustik saat memegang stick, yakni semi terbalik, dan itu tidak lah mainstream. Tak mudah membaca arah bola kemana akan menuju lewat cara memegang bet macam begitu. Apalagi saat ia memuncratkan backhand maupun smash secara tiba-tiba. Sangat sialan sekali! Aku pun kalah telak 3 set tanpa belas ampun. Memang ini bukan kompetisi melainkan senang-senang saja. Namun hal ini cukup membuatku malu. Tengsin atuh anjir! Tunggu minggu depan anda akan ku balas, pak!!

Kasihan Bangsa

Oleh: Kahlil Gibran

kasihan bangsa
yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak dituainya dan meminum anggur yang tidak diperasnya

kasihan bangsa
yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

kasihan bangsa
kecuali jika sedang berjalan diatas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada diantara pedang dan landasan.

kasihan bangsa
yang negarawannya serigala, falsafahnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru

kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan terompet kehormatan
namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi.

kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan

kasihan bangsa yang berpecah belah, dan masing-masing menganggap dirinya sebagai satu bangsa.

Inspiration Today! #1

Ada yang menarik perhatian dari tangan-tangan seorang tukang. Dari tangan-tangan mereka lahir sebuah karya yang luar biasa. Dan malah abadi. Sebut saja Monumen Nasional, Menara Eiffel, Vatikan, Borobudur, Kubah Mas, Piramida, rumahku, rumahmu, rumah kalian, dan masih banyak lagi.

Sebetulnya, mereka mampu menjadi konseptor sebuah ruang bangunan. Meski mereka tak mengenyam pendidikan tinggi macam arsitektur, design grafis, atau DKV sekalipun. Karena pengalaman telah menempa dengan baik. Dari situ mereka mampu membuat sebuah ruangan yang indah dan secara kualitas malah melebihi (mereka) yang konon duduk dibangku kuliahan. Para tukang itu amat paham dari hal terkecil sampai terbesar jika ingin membangun sesuatu. Dari equipment paling mini hingga super.

Seringnya, aku merasa malu terhadap para tukang itu. Apa bisaku! Hah! Mereka begitu revolusioner. Sebab bagiku seorang revolusioner itu adalah seorang pencipta. Saat mereka ingin membuat/membangun sesuatu maka jadilah ia. Sesuatu yang kegunaannya seringkali melampaui zamannya. So fuxxxin inspiring!

Evo-luasi

Orang hidup tentunya akan banyak menemukan masalah. Orang yang punya cita-cita tentunya akan banyak menemui gundah. Jika engkau berhenti bermimpi maka pelan-pelan eksistensimu tamat dihadapan semesta. Jika engkau berhenti berimaginasi maka perlahan engkau kan berakhir sebagai sampah atau dapat jadi lebih dari itu. Sesuatu yang sebisa mungkin mesti dijauhi. Engkau hanya perlu re-manage, re-map, re-organize, dan tentu saja aksi. Seperti bunyi komposisi Godspeed yang berkata, “the really existenz is action.”

Ngagantung: Hiji-Hiji Woi!

Belakangan ini banyak sekali hal yang bersliweran dalam kepalaku. Pekerjaan. Laptop yang belum kunjung datang. Zine project yang mesti diluruskan rute-nya. Buruh rumah tangga. Materi musik. Hutang yang berupa janji kepada kawan. Hanjrit!

ampe bingung gua mana yang mesti dieksekusi lebih dulu? Wahai ketenangan datang lah…